Laman

Loading...

Rabu, 18 Maret 2009

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEAGAMAAN PADA MASYARAKAT INDUSTRI

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEAGAMAAN
PADA MASYARAKAT INDUSTRI

A. Pengertian Transformasi Nilai-nilai Keagamaan
Kata transformasi berasal dari bahasa latin “transformare”, yang artinya mengubah bentuk. Menurut pendapat S. Wojowasito dan Tito Wasito (1982: 241)”transformasi” berasal dari kata “formation” (inggris) berarti bentuk. Secara etimologi (lughawy) Komaruddin dalam bukunya Kamus Riset (1984:285) menyebutkan bahwa transformasi adalah “perubahan bentuk atau struktur, (konversi dari suatu bentuk kebentuk yang lain)”.
Secara terminologi (istilah) kata transformasi memiliki multi-interpretasi. Keberagaman tersebut dikarenakan berbedanya sudut pandang dan kajian. Sebagai bahan kajian penulis menyodorkan beberapa pendapat dan pandangan para pakar, baik yang menyentralkan kajiannya pada disiplin keilmuan sosiologi, antropolgi, maupun bahasa.
Pengertian mengenai istilah transformasi sebagaimana yang diungkapkan Dawam Raharjo (1993:98-102). Pertama, Transformasi berkaitan dengan pengertian yang menyangkut perubahan mendasar berskala besar dalam masyarakat dunia, yang beralih dari tahap masyarakat industri menjadi masyarakat informasi. Kedua pengertian tentang terjadinya transformasi itu timbul dari kajian historis, yang menyimpulkan bahwa selama kurang lebih dua atau tiga abad terakhir telah terjadi perubahan fundamental dari masyarakat agraris-tradisional kemasyarakat industrial modern.
Dalam buku yang berjudul Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, Kuntowijoyo secara eksplisit menyebutkan bahwa transformasi merupakan sebuah konsep ilmiah atau alat analisis untuk memahami dunia (1999: 18). Karena dengan memahami perubahan setidaknya dua kondisi/keadaan yang dapat diketahui, yakni keadaan pra-perubahan dan pasca-perubahan.
Apabila pendekatan transformasi yang bernilai sosial diatas ditimbang dan dinilai menurut ukuran baru yang dipakai agama-agama baru yang masuk dalam lingkungan adat, ternyata hasilnya menunjukan bahwa nilai-nilai sosial itu tidak semuanya bersifat manusiawi (wajar), bahkan sebagian dinyatakan bertentangan dengan kaidah kemanusiaan yang wajar. Hendropuspito dalam buku Sosiologi Agama (1984:56) menyatakan, “transformasi” bisa berarti juga mengubah kesetiaan manusia adat kepada nilai-nilai adat yang kurang manusiawi dan membentuk kepribadian manusia yang ideal. Bersamaan dengan itu transformasi berarti pula membina dan mengembangkan nilai-nilai sosial adat yang pada intinya baik dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas.
Dalam pendekatan lain, transformasi yang dilakukan pada agama berarti mengubah bentuk kehidupan masyarakat lama kedalam bentuk kehidupan baru. Ini berarti pula mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru, yang berdasarkan pengamatan analitis diketahui bahwa kehidupan masyarakat lama dibentuk oleh nilai-nilai adat yang diwariskan dari angkatan sebelumnya yang berupa pola-pola berfikir, serta pola-pola kelakuan yang harus ditaati (Hendropuspito, 1991:54).
Menurut Dawam Raharjo dalam bukunya Intelektual Intelegensia Dan Perilaku Politik Bangsa (1996:99), menyebutkan bahwa pengertiaan yang lain mengenaai prses transformasi ini berkembang dari penolakan terhadap pengertian pembangunan (develoment) yang konvensial.
Transformasi tidak hanya bermaksud menjelaskan dan mengubah realitas sosial, tapi juga memberi interpretasi, mengarahkan dan membawa perubahan-perubahan mendasar kedalam kehidupan umat Islam. Transformasi berbeda dengan rekayasa karena transformasi merupakan perubahan yang bersifat alamiah dan keharusan sejarah yaitu adanya proses dialektis dalam kesadaran masyarakat.
Perbedaan itu terlihat karena rekayasa lebih bersifat artifisial karena tuntutan satu golongan atau stratifikasi sosial tertentu. Rekayasa bisa menimbulkan revolusi atau perubahan secara mendadak sedangkan transformasi bersifat evolusi/ bertahap.
Paradigma transformasi menginginkan agar perubahan sosial dalam suatu masyarakat hendaknya dilakukan oleh masyarakat itu sendiri secara demokratis. Transformasi juga difahami dalam kaitannya dangan doktrin atau ajaran moral dan etika Islam, karena perubahan-perubahan kearah sistem ekonomi atau kondisi ekonomi yang Islami memerlukan proses transformasi (Moeslim Abdurrahman, 1995:2258).
Adanya cita-cita atau kehendak atau perubahan yang diidamkan masyarakat dalam sebuah transformasi pada hakikatnya adalah perubahan yang didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi, liberasi dan transeden. Kontowijoyo memaparkan maksud dari ketiga hakikat tersebut, yaitu, “humanisasi/emansipasi ditujukan untuk memanusiakan manusia, liberasi ditujukan untuk pembebasan bangsa dari kekejamaan, kemiskinan, keangkuhan teknologi, dan pemerasan pelimpahan, dan transenden adalah menambahkan dimensi transenden dalam budaya.
Sebagai sebuah ideologi sosial, Islam juga menderivasi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Karena itu menjadi sangat jelas bahwa sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi juga diubah dan dikendalikan (Kuntowijoyo,1999:337).
Islam memiliki dinamika dalam timbulnya desakan pada adanya transformasi sosial secara terus menerus, yang akan berakar juga pada misi ideologisnya yakni cita-cita untuk menegakkan amr ma’ruf dan nahyi munkar dalam masyarakat didalam kerangka keimanan kepada Tuhan. Sementara amr ma’ruf berarti humanisasi dan emansipasi, nahyi munkar merupakan upaya untuk liberasi. Dan karena kedua tugas itu berada dalam kerangka keimanan, maka humanisasi dan liberasi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dari transendensi.

B. Pengertian Masyarakat Industri
Mengutip pandangan Kuntowijoyo yang ditulis dalam bukunya paradigma Islam, bahwa:
Transformasi sosial menuju masyarakat industri merupakan sunatullah yang tidak terelakan. Bahkan ayat Al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa industrialisasi pasti akan terjadi, sebab dengan industri peradaban besar akan dibangun. Namun, setiap setiap pengamat akan berbeda pendapat dalam menetapkan pemahaman terhadap proses indrustrialisasi, tingkatan masyarakat industri, cirri-ciri dan konsekuensinya. Industrialisasi bukanlah suatu perjalanan sejarah yang unilineal dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, masyarakat tradisional ke masyarakat modern, tetapi suatu evolusi yang multilineal (1999:171).

Berangkat dari kutipan tersebut secara sepintas pengertian masyarakat industri setidaknya telah terdeskripsikan, bahwa masyarakat industri bukanlah muara sebuah proses perubahan masyarakat akan mengalami proses yang sama, pengertiaan yang senada, kecepatan yang sama dan akibat-akibat yang sama pula. Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (agraris-tradisional) dan masyarakat perkotaan (industri-modern). Masyarakat; pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya pekerjaan lain seperti tukang kayu, tukang genteng, tukang bata, dan sebagainya, akan tetapi inti pekerjaan masyarakat adalah pertanian. Kehidupan keagamaan yang kental dan rasa gotong royong yang tinggi menjadi ciri khas masyarakat pedesaan.
Kondisi masyarakat agraris (pedesaan) sangat jauh berbeda dengan masyarakat industri yang telah memiliki taraf pembagian kerja lebih lanjut. Juga berlaku keteraturan sosial mencakup kegiatan-kegiatan yang coraknya sesuai dengan lingkungan hidup perkotaan. Yad Mulyadi dan Posman Simanjuntak (1994: 123) menyebutkan bahwa masyarakat kota (industri) juga sering disebut dengan urban community. Pengertian masyarakatnya lebih di tekankan pada sifat-sifat kehidupannya.
Bentuk kebudayaan masyarakat industri pada intinya adalah penghalusan prilaku manusia atau kesopan-santunan. Pada masyarakat demikian dalam berinteraksi lebih dipengaruhi oleh motif ekonomi, dari pada motif sosial.Ciri-ciri masyarakat industri yang paling menojol adalah:
1. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
2. Kesempatan kerja lebih banyak diperoleh warga kota karena sistem pembagian kerja yang tegas dan seuai dengan kemampuan yang dimilikinya (prfesionalisme)
3. Pola pemikiran yang raional, sistematis dan objektif yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan menyebabkan interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan dari pada faktor pribadi.
4. Faktor waktu lebih penting dan berharga, sehingga pembagian waktu yang sangat teliti sangat penting untuk mengejar kepentingan individu.
5. Perubahan sosial sangat nampak dengan nyata, karena kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

Masyarakat industri mempunyai moralitas yang baru yang menekankan kepada rasionalisme ekonomi, pencapaian perorangan (individualisme), dan kesamaan (egalite). Rasionalisme ekonomi mendorong masyarakat secara kolektif dan perorangan untuk memaksimalkan perolehan dengan cara manajemen secara ilmu pengetahuan dan penerapan dari social engeneering dalam masyarakat. Masyarakat juga menghargai secara sungguh-sungguh sukses, kemampuan perorangan, usaha keras, dan pencapaian kemajuan.
Kesamaan (egalite) adalah ciri masyarakat industrial. Tidak seperti masyarakat agraris yang terbagi dalam pemilik dan penggarap tanah secara ketat, tuntutan akan kesamaan kekuasaan dan privilese dalam masyarakat industri merupakan bagian yang tak tertinggalkan dari proses industrialisasi (Kuntwijoyo, 1998 : 173).
Industrialisasi menyangkut proses perubahan sosial, yaitu perubahan susunan kemasyrakatan dari suatu sistem sosial pra-industrial (agraris) ke sistem sosial industrial. Atau dengan kata lain yaitu perubahan dari keadaan masyarakat “negara kurang maju” (less developed country) ke keadaan masyarakat “negara yang lebih maju” (more developed country).
Masyarakat industrial menuntut dan melahirkan nilai-nilainya sendiri yang tidak dapat dihindarkan. Untuk menjadi industrial, masyarakat harus disiapkan untuk menerima nilai-nilai yang bakal menunjang proses industrialisasi, dikehendaki ataupun tidak pasti melahirkan tata nilai yang kebanyakan tidak dikenal oleh suatu masyarakat pedesaan (Nurcholish Madjid, 1999 : 127).

Di sini tampak bahwa dinamika masyarakat industri sangat berbeda dengan masyarakat pedesaan-agraris. Untuk memasuki sebuah masyarakat industri bukan saja perangkat-perangkatnya yang diperlukan, tetapi lebih penting dari itu ialah perubahan kesadaran masyarakat dan perorangan. Perubahan kesadaran tidak selalu sama kecepatannya dengan perubahan institusional.
Pada dasarnya masalah industrialisasi tidak dapat dipisahkan dari masalah modernisasi. Kedua gejala itu dapat terjadi bersamaan waktu atau tidak. Sebagaimana yang diungkapkan M. Francis Abraham dalam bukunya yang dialih bahasakan oleh M. Rusli Karim dengan judul “Modernisasi di Dunia Ketiga; Suatu Teori umum Pembangunan” (1991 : 10), menegaskan bahwa proses urbanisasi, industrialisasi, dan skulerisasi sering disamakan dengan modern. Bahkan bagi beberapa sarjana, proses tersebut merupakan prasarat utama modernisasi; bagi yang lain, proses itu merupakan akibat saja. Industrialisasi dianggap sebagai aspek khusus, modernisasi yang dianggap sebagai proses yang menghasilkan kondisi yang mendukung modernisasi dengan teknologi sebagai suatu prasyarat pokok.
Sebagai contoh, sebuah desa yang terpencil dapat mengalami modernisasi tanpa harus memasukkan usaha-usaha industri di desa itu. Demikian pula sebaliknya, industrialisasi tidak akan serta merta menyebabkan modernisasi. Di tanah jajahan yang proses industrialisasinya sering terjadi hanya di sekitar ekonomi maju, masyarakat secara keseluruhan sering masih hidup secara tradisional.
Industrialisasi terjadi bila ilmu pengetahuan dan teknologi diterapkan dalam masyarakat. Pekerjaan-pekerjaan semacam pertukangan sudah ada sejak dulu, tetapi industri semacam itu tidak menumbuhkan masyarakat industri. Masyarakat industri terwujud hanya kalau terdapat produksi komoditi secara mekanis dalam pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan, hal-hal yang menjadi ciri dan memberi bentuk pada masyarakat industri (Kuntowijoyo : 173).

Transformasi industrial mempunyai konsekuensi yang amat luas. Gejala-gejala penting dalam masyarakat industri ialah memanjangnya usia rata-rata, kenaikaan yang terus menerus dalam autput nasional, perhatian yang besar bahkan obsesi pada produksi dan ekspansi, penciptaan lingkungan buatan bagi kehidupan manusia, tenaga kerja dan organisasi yang serba besar, rasionalisasi intelektual dan sosial.
Adanya istilah masyarakat industri muncul karena adanya industrialisasi didefinisikan oleh Henry Fratt Faichild sebagai proses perkembangan teknlogi oleh penggunaan ilmu pengetahuan terapan, ditandai dengan ekspansi besar-besaran dengan menggunakan tenaga permesinan untuk tujuan yang luas bagi barang-barang produksi.
Nurcholish Madjid (1999 : 140) mengungkapkan bahwa, jika proses tersebut telah jauh, maka tidak hanya mekanisasi yang meliputi industri itu sendiri yang terkena imbasnya – pertanian, produksi besar-besaran, spesialisasi dan pembagian kerja akan terkena imbasnya pula. Selain perubahan di bidang ekonomi terjadi pula perubahan yang kmpleks dalam kelompok sosial dan proses sosiaal yang pada gilirannya terjadi pula perubahan yang penting dalam adat dan kebiasaan masyarakat. Tegasnya, industrialisasi menyangkut perubahan sosial, yaitu perubahan susunan masyarakat dari suatu sistem sosial pra-industrial (agraris, misalnya) ke sistem sosial masyarakat industri.

C. Nilai-niali Keagamaan dan Sistem Sosial dalam Masyarakat Industri
Sebagai awal pemahaman tentang nilai-nilai agama yang hidup dan berkembang pada suatu masyarakat industrialis, terlebih penulis paparkan tentang definisi atau pendekatan makna agama. Hendropuspito (1991 : 34) menyimpulkan bahwa yang dimaksud agama adalah “suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan bagi diri mereka.
Pendekatan tentang agama yang lain disampaikan Nurchlish Madjid (1999 : 135), bahwa sesungguhnya terdapat dua aliran di kalangan ahli-ahli ilmu kemasyarakatan mengenai kriteria atau definisi agama, yaitu pertama, yang lebih inklusif --- suatu definisi yang dikemukakan oleh para penganut konsep tentang sistem sosial yang menekankan perlunya individu-individu dalam masyarakat dikontrol oleh kesetiaan menyeluruh kepada seperangkat sentral kepercayaan dan nilai. Contohnya adalah pengertian agama yang dilontarkan oleh Emile Durkheim, bahwa agama adalah : “Suatu sistem yang dipadukan mengenai kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang berhubungan dengan yang suci, yaitu hal-hal yang terpisah dan terlarang --- kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang menyatukan semua pengikutnya ke dalam suatu komunitas moral tunggal yang disebut umat”. Kedua, definisi agama yang bersifat ekslusif --- definisi yang menekankan pengertian agama sebagai konfigurasi representasi-representasi keagamaan yang membentuk suatu alam kesucian, yaitu agama dalam bentuk khusus sosial-historis dan sosio-kulturnya. Agama merupakan suatu cara manusia menemukan makna hidup dalam dunia yang menjadi lingkungannya.
Pada abad modern ini agama semakin sulit ditemukan kembali maknanya. Kesulitan itu terutama ditimbulkan oleh masalah yang muncul akibat dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi ciri utama abad modern yang secara tak terbendung mengubah bentuk dan jaringan masyarakat serta lembaga-lembaganya.
Agama pada umumnya menerangakan fakta bahwa nilai-nilai yang ada dalam hampir semua masyarakat bukan sekedar kumpulan nilai yang bercampur aduk tetapi membentuk tingkatan (hirarki). Dalam hal ini, agama menetapkan nilai-nilai tertinggi. Adapun yang dimaksud dengan nilai-nilai keagamaan sejalan dengan ungkapan Djohan Effendi (Nurcholish Madjid, et all, 2000 :xxi) adalah sebuah fenomena yang kaya sekaligus sangat kompleks. Ia mengandung berbagai dimensi ritual, doktrinal, etika, sosial dan eksperiensial.
Dalam masyarakat industri, kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di desa. Ini disebabkan cara berfikir yang tasional, yang didasarkan pada perhitungan eksak yang berhubungan dengana realita masyarakat. Masyarakat industri mempunyai kecenderungan ke arah keduniawian/seculer trend, dibandingkan dengaan kehidupan warga desa yang cenderung ke arah agama/religious trend (Soerjono Soekanto, 1996 : 170).

Mengutip pendapat dan pandangan Kuntowijoyo (1999 : 28-38) yang memaparkan tentang nilai-nilai keagamaan (Islam) yang jika ditarik kepada pemahaman yang lebih umum dan universal, maka dapat disebutkan disini bahwa nilai-nilai keagamaan meliputi dua nilai keagamaan. Pertama, nilai keagamaan internal, yang meliputi aspek 1) Ketauhidan (Ketuhanan), 2) Doktrin (Syari’at/hukum), 3) Moral dan etika (Akhlak), 4) Pembentukan Pribadi. Kedua, nilai keagamaan eksternal --- nilai keagamaan ini merupakan konsekuensi logis dari internalisasai yang meliputi aspek 1) Ibadah, 2) Sistem kepercayaan, 3) Sistem Ritual.
Abdul Munir Mulkhan (1995 : 170 menyebutkan bahwa kehidupan masyarakat industri yang terbelah tanpa saling hubungan telah diatur melalui mekanisme kerja ekonomis. Batas budaya semakin terbuka dan global mengakibatkan ikatan keagamaan mencair dalam hubungan organisasional eknomis. Hubunagn keluarga pun mengalami desakralisasi yang diatur dan dikembangkan bagi kepentingan ekonomi dan politik di masa emosi keagamaan menajdi etalase dan assesori.

Bentuk-bentuk perubahan sosial yang menyertai proses industrialisasi mempengaruhi secara negatif pada kehidupan keagamaan. Dalam masyarakat industri, peranan pengelompokan sekunder semakin menggeser pengelompokan primer. Yang dimaksud dengan pengelompokan sekunder ialah unit dan organisasi kerja atau produksi. Sedangkan yang dimaksud dengan kelompok primer ialah keluarga, suku, dan agama.
Semakin dominannya peranan ilmu pengetahuan, menyebabkan terjadinya pergeseran nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat industri. Tindakan keagamaan dilakukan karena pengakuan adanya supra-empiris atau gaib dan misteri. Pada masyarakat yang didominasi oleh ilmu pengetahuan, suatu terra incognita menyuguhkan tantangan untuk diselidiki dan dibongkar rahasianya. Namun, pada masyarakat agraris umumnya, ketidakberdayaan manusia menghadapi alam dan hal-hal berkaitan dengan kegaiban atau misteri melahirkan konsep dan tindakan yang bersifat religius-magitis.
Tetapi industrialisasi dan modernisasi tidak hanya menggeserkan nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat. Industrialisasi juga dapat membebaskan manusia dari magisme.
Sebagai contoh, karena instrumen untuk memberantas hama tanaman dalam suatu masyarakat industri telah disediakan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya dalam bentuk insektisida, maka orang akan semakin berkurang mendekati Tuhan --- misalnya dalam bentuk doa --- dengan tujuan agar tanamannya disawah tidak terkena hama. Masyarakat akan berpindah dari religiusitas berdemensi cultural instrumental ke cultural connsumatory, di mana masyarkat dapat melihat ibadat sebagai tujuan pada dirinya dan menjadi sumber kebahagiaan (Dr. Nurcholish Madjid : 1999 : 149).

Dalam masyarakat industri yang tak terelakan lagi ialah pelapisan sosial berdasarkan kelas. Kelas seseorang dalam masyarakat industri ditentukan oleh market situation (kedudukan seseorang dalam pasar). Artinya seseorang termasuk dalam suatu kelas tergantung dari kekayaannya, pekerjaannya, kesempatannya terhadap kekuasaan.
Dalam level tertentu, agama (Islam) mengalami sedikit modifikasi. Islam dalam arti agama, itu universal. Tetapi teori-teori sosial Islam tentu hanya terbatas pada zaman dan masyarakat tertentu. Teori sosial Ibnu Khaldun (yang diangkat dari konsep normatif Islam) misalnya, barangkali hanya berlaku untuk masyarakat pada abad XIV, tetapi mungkin tidak berlaku untuk masyarakat industri.

D. Kaitan Nilai Keagamaan Dengan Kedinamisan Masyarakat Industri
Bentuk hubungan dinamis antara nilai keagamaan dan masyarakat industri merupakan persoalan rumit yang banyak menimbulkan kontroversi, khususnya di kalangan Ilmuan sosial. Sebagaimana diungkapkan oleh Nurchalish Madjid (1999:142) bahwa sesungguhnya penelitian mengenai hubungan dinamis antara agama dan proses modernisasi (industrialisasi) telah cukup lama menjadi perhatian para ahli, dengan kadar kedalaman yang berbeda-beda.
Dalam hal nilai kaitan keagamaan dengan kedinamisan masyarakat industri, penulis paparkan dengan metode deduksi, berawal dari ungkapan-ungkapan yang umum dan besar yang kemudian dikerucutkan menjadi beberapa poin khusus dan spesifik yang pada akhirnya merupakan kesimpulannya.
Bentuk hubungan antara nilai-nilai Islam dan proses industrialisasi serta perkembangan ekonomi pada umumnya telah menjadi sasaran penelitian Bocock. Diilhami oleh analisis Weber, Bocock mempelajari peranan orang-orang muslim Mazhab Syiah Ismailiyah di Tanzania. Contoh lain di Afrika Timur, penduduk emigran asal Asia, khususnya Indo Pakistan memainkan peranan yang amat penting dalam pembangunan ekonomi, yakni dengan memelopori perdagangan dan industri kerajinan dan mendominasi dunia keuangan dan profesi. (Nurcholis Madjid, 1999 : 145).
Berdasarkan penelitian tersebut suatu faktor penting dalam keberhasilan adalah terdapatnya dorongan-dorongan kepada anggotanya untuk memodernisasi tingkah laku dan prakter mereka. Dalam masalah kesejahteraan sosial menentang perkawinan anak-anak dan menganjurkan penggunaan metode-metode baru untuk perawatan anak, mendorong untuk mandiri dalam kesehatan dan pendidikan. Pada umumnya kaum Ismailiyah di Afrika Timur nampak memainkan peran inisiatif dan kepeloporan yang sama dalam pembangunan ekonomi seperti kaum Puritan Eropa, mereka juga bekerja keras, hemat, sederhana, dan dapat dipercaya atau amanah.
Di Indonesia, bentuk hubungan agama Islam dengan kegiatan ekonomi dan perkembangannya akhir-akhir ini mulai nampak memperoleh perhatian. Contohnya adalah pesantren-pesantren “Lembaga Pendidikan Agama Tradisional” menjadi tempat pendidikan dan persemaian tenaga-tenaga wiraswasta asli atau pribumi yang memainkan peranan sebagai pelopor dan penggerak usaha dagang dan ekonomi mandiri di kalangan penduduk. (Nurcholis Madjid, 1999 : 146)

Melihat dari beberapa pemaparan di atas dipahami bahwa pergeseran religiusitas dalam mesyarakat industri merupan indikator adanya kaitan yang dinamis antara nilai keagamaan dan sistem masyarakat industri menurut Nurcholis Madjid, pergeseran itu karena semakin dominannya ilmu pengetahuan, baik sosial, iptek maupun lainnya. Namun dalam hubungan kedinamisan ini tidak selamanya bersifat positif, karena pada kasus tertentu proses industrialisasi akan membawa serta akibat menurunnya religiomagisme yang untuk sebagian masyarakat merupakan religiustas itu sendiri. Maka bagi mereka industrialisasi menurunkan religiusitas.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka jelas nampak ada kaitan/hubungan antara nilai keagamaan dan sistem masyarakat industri. Hal tersebut terbukti dengan adanya kohesi (tarik menarik) kepentingan antara nilai keagamaan yang merupakaan realitas kehidupan sebagai akibat proses modernisasi dan industrialisasi.
Indikator keterkaitan/hubungan tersebut adalah dengan timbulnya pergeseran nilai kehidupan dari nilai-nilai lama menuju nilai-nilai hidup yang baru. Dalam aspek kehidupan nilai-nilai keagamaan masyarakat industri terdapat pergeseran dalam pemahaman keagamaan yang cenderung rasional, ilmiah dan universal ---bahkan kegiatan keagamaan cenderung lebih kreatif dan beragam lagi tidak kaku seperti dalam sistem masyarakat pra-industri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Rusman Faoz

Rusman Faoz