Laman

Loading...

Minggu, 07 November 2010

Teknologi Pendidikan

A. Latar Belakang
Pesatnya kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah mengubah pola dan cara kegiatan bisnis, industri, perdagangan, dan pemerintahan. Perkembangan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan informasi telah menjadi paradigma global yang dominan. Kemampuan untuk terlibat secara efektif dalam revolusi jaringan informasi akan menentukan masa depan kesejahteraan bangsa.
Salah satu sektor yang menggunakan sistem dengan Teknologi Informasi - Komunikasi dan multimedia adalah sektor pendidikan yaitu dengan pembelajaran yang menggunakan teknologi. Salah satu wujudnya adalah pembelajaran jarak jauh (distance learning) dan atau e-learning baik secara on-line maupun off-line. Program tersebut untuk mewujudkan e-learning yang mampu memberi fasilitas kebutuhan pengetahuan dan keterampilan masyarakat lebih berkualitas tanpa batasan dimensi ruang dan waktu.
Saat ini kita sedang memasuki masa perubahan paradigma dari metode dan sistem manajemen serta mindset dari konvensional menuju sistem modern, yang semuanya berbasis teknologi infomasi. Adapun geseran paradigma ini nantinya akan dapat meningkatkan mutu pendidikan, dengan gambaran sebagai berikut :

1. Pola interaksi yang tidak lagi mengenal jarak, ruang dan waktu.
2. Perubahan dari pendidikan terpusat menjadi tersebar
fleksibilitas dalam jarak, ruang dan waktu.
3. Bahan ajar yang disajikan dalam multimedia dengan suara dan gambar yang dinamis, tidak membosankan, serta padat informasi.
4. “Self-pace learning” artinya kecepatan belajar ditentukan oleh diri sendiri bukan oleh kemampuan yang diseragamkan dalam kelas.
5. “Self-motivated learning” artinya memacu kemampuan belajar mandiri
Perubahan dari “Teacher Centric” (guru sebagai pusat pembelajaran) menjadi “Learner Centric” (murid sebagai pusat pembelajaran).
6. Perubahan dari “Entry Barrier” (seleksi ketat) menjadi “Output Quality Standard” (lulusan berkualitas stardard) artinya bukan masuknya yang dipersulit tapi lulusannya yang harus memenuhi standard kualitas, sedang lamanya belajar tergantung motivasi, kecerdasan, dan usaha masing-masing peserta didik
7. Interaksi antara pengajar dan peserta didik dilakukan tidak hanya dengan tatap muka, tetapi juga melalui fasilitas interaksi elektronik sehingga meningkatkan kemampuan baca tulis

Teknologi Pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Teknologi Pembelajaran semula dilihat sebagai teknologi peralatan, yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan atau dengan kata lain mengajar dengan alat bantu audio-visual. Teknologi Pembelajaran merupakan gabungan dari tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem dalam pendidikan.
Adalah Edgar Dale dan James Finn merupakan dua tokoh yang berjasa dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran modern. Edgar Dale mengemukakan tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) sebagaimana tampak dalam gambar 1 berikut ini :








Gambar 1. Kerucut Pengalaman Dale
Dari gambar tersebut dapat kita lihat rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang merentang dari yang bersifat kongkrit ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi tertentu terhadap pemilihan metode dan bahan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran
Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Kerucut Pengalaman Dale telah menyatukan teori pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran progresivisme) dengan gagasan – gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu.
Sedangkan, James Finn seorang mahasiswa tingkat doktoral dari Edgar Dale berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi audio-visual menjadi Teknologi Pembelajaran yang kemudian berkembang hingga saat ini menjadi suatu profesi tersendiri, dengan didukung oleh penelitian, teori dan teknik tersendiri. Gagasan Finn mengenai terintegrasinya sistem dan proses mampu mencakup dan memperluas gagasan Edgar Dale tentang keterkaitan antara bahan dengan proses pembelajaran..

B. Rumusan Konsep Teknologi Pendidikan / Instruksional
Pandangan umum tentang teknologi sangat mempengaruhi teknologi pendidikan. Awal dari kebutuhan teknologi untuk dunia pendidikan karena pengaruh teknologi produk yang makin banyak diminati masyarakat.

1. Pengertian Umum mengenai Teknologi
Selama ini kita menganggap bahwa teknologi memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Kita terbiasa dan cenderung menganggap teknologi sebagai peralatan dan berkaitan dengan mesin,komputer,dan serba elektronik.Padahal arti teknologi sangat luas dan tergantung peran teknologi itu sendiri bagi manusia.
a. Finn (1960)
Finn, 1960 sebagaimana dikutip oleh Gentry menyatakan,“selain diartikan sebagai mesin, teknologi bisa mencakup proses,sistem,manajemen,dan mekanisme pantauan;baik manusia itu sendiri atau bukan,serta …… secara luas,cara pandang terhadap masalah berikut lingkupnya,tingkat kesukaran, studi kelayakan,serta cara mengatasi masalah secara teknis dan ekonomis ”.
Dalam hal yang sama, ia mengutip pula konsep Simon (1983) yang berbunyi, “teknologi sebagai disiplin rasional,dirancang untuk meyakinkan manusia akan keahliannya menghadapai alam fisik atau lingkungan melalui penerapan hukum atau aturan ilmiah yang telah ditentukan ”.

b. Konsep Teknologi Menurut Saettler
Disamping kedua definisi, pemikiran Saettler tidak jauh berbeda. Beliau mengutip asal katanya – techne ,bahasa Yunani, dengan makna seni, kerajinan tangan, atau keahlian. Kemudian ia menerangkan bahwa teknologi bagi bangsa Yunani kuno diakui sebagai suatu kegiatan khusus, dan sebagai pengetahuan. Pendapat Saettler ini mengacu pada konsep Mitcham. Ia mencantumkan uraian
Aristotle tentang techne sebagai penerapan (ilmu) pengetahuan sistematis agar menghasilkan kegiatan (manusia)yang baik.

c. Konsep Teknologi menurut Heinich,et al .
Pendapat Heinich, Molenda, dan Russell, 1993 memperkuat asumsi sebelumnya. Menurut mereka, “teknologi merupakan penerapan pengetahuan yang ilmiah, dan tertata ……teknologi sebagai suatu proses atau cara berpikir bukan hanya produk seperti komputer, satelit, dan sebagainya ”. Ketiga pakar ini membedakan antara teknologi/perangkat lunak atau soft technology dengan teknologi/perangkat keras atau hard technology. Selain itu, mereka menyatakan “teknologi sebagai suatu pengetahuan diterapkan oleh manusia untuk mengatasi masalah dan melaksanakan tugas dengan cara sistematis dan ilmiah ”.
Dari seluruh definisi tadi hanya definisi dari Finn saja yang menyinggung arti teknologi sebagai penggunaan mesin atau perangkat keras. Para pakar tadi berkesimpulan bahwa :
a. teknologi terkait dengan sifat rasional dan ilmiah
b. teknologi menunjuk suatu keahlian,baik itu seni,atau kerajinan tangan
c. teknologi dapat diterjemahkan sebagai tehnik atau cara pelaksanaan suatu kegiatan,atau sebagai suatu proses
d. teknologi mengacu pada penggunaan mesin-mesin dan perangkat keras.

2. Sifat Teknologi
Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi ini mengungkapkan bahwa sifat teknologi ada 3 macam, yaitu :
a. Teknologi maju (advance technology ),yaitu upaya peningkatan kemampuan nasional di bidang penelitian dan teknologi terkait dengan sumber enerji,mineral,nuklir,dan beberapa aspek pokok di bidang teknologi angkasa luar;
b. Teknologi adaptif (adaptive technology )adalah teknologi yang bersumber pada penelitian dan pengembangan di negara maju, harus digarap dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat;
c. Teknologi protektif (protective technology), yaitu teknologi yang dipersiapkan untuk memelihara,melindungi,dan mengamankan ekologi serta lingkungan hidup bagi masa depan.
Pendapat di atas merupakan suatu tinjauan berdasarkan ilmu ekonomi yang menekankan peran serta pengaruh pemanfaatan teknologi terhadap kekayaan alam. Djojohadikusumo juga mewaspadai bagaimana seharusnya manusia menerapkan teknologi dengan benar.
Quraish Shihab mengungkapkan arti teknologi bagi manusia. Ia menyebutkan teknologi ditemukan untuk :

a. Perpanjangan fungsi organ manusia.
Shihab, selanjutnya menjelaskan sebagai perpanjangan organ manusia, teknologi diciptakan untuk membantu manusia dalam penyelesaian pekerjaan. Sebagai contoh,temuan perkakas ‘pisau’ digunakan sebagai perpanjangan tangaun manusia untuk memotong, ‘palu’ dibutuhkan agar tangan dapat memaku.

b. Perluasan atau penciptaan organ baru manusia
Rumusan fungsi kedua,yaitu teknologi yang diciptakan untuk perluasan atau penciptaan organ baru manusia karena manusia tidak memiliki organ tubuh yang dapat melaksanakan tugas tersebut. Maka, teknologi jenis ini dapat mengambil alih pekerjaan manusia. Sebagai contoh, temuan pesawat terbang pada dasarnya berperan sebagai “sayap ” manusia agar dapat menyeberangi daerah yang terhalang oleh laut.

c. Menjadi “seteru ” atau saingan manusia
Fungsi terakhir berkaitan dengan sifat teknologi yang semakin lama semakin rumit.Teknologi ini diciptakan berdasarkan temuan teknologi sebelumnya,atau memperbaiki dan meningkatkan mutu teknologi yang sudah ada agar kemampuannya berlipat ganda .Robotisasi merupakan suatu temuan canggih yang mampu mengatasi tugas-tugas berat atau rumit bagi manusia.Sayangnya,robotisasi – kalau pemanfaatannya menyalahi hokum atau aturan – dapat ‘mengancam ’tenaga kerja sehingga akhirnya robot menjadi saingan atau kompetitor bagi para pekerja /buruh untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu.
Bagi Heinich,teknologi dianggap sebagai suatu disiplin ilmu yang sistematis dan rasional .Ia merumuskan beberapa sifat yang harus dimiliki oleh suatu teknologi.Sifat-sifat tersebut adalah :
a. dapat ditiru,diulang atau diperbanyak (replicability )
b. diandalkan karena melalui serangkaian ujicoba (reliability )
c. mudah digunakan dan dilaksanakan untuk mengatasi masalah (algorithmic - decision making )
d. dapat dikomunikasikan dan dipantau sehingga teknologi dapat diperbaiki berdasarkan masukan dari orang /pihak lain (communication and control )
e. berkaitan dengan sifat pertama,berdampak skala – karena pengulangan dan penyebarannya,sehingga dampak baik atau buruk teknologi apat cepat tersebar atau menyusut – (effect of scale ).



3. Rumusan Teknologi Pendidikan
Konsep teknologi yang telah dibahas tadi sebetulnya dapatditerapkan bagi berbagai disiplin ilmu. Untuk kebutuhan dasar manusia, kita mengenal teknologi pangan dan teknologi penyehatan lingkungan. Di bidang industri ada teknologi perkapalan, teknologi industri itu sendiri,sedang pada ilmu murni kita mengenal bioteknologi,dan istilah DNA.Dunia pendidikan juga mengenal dan menerapkan teknologi pendidikan,Berbagai pandangan mengenai konsep
Definisi teknologi pendidikan sudah diajukan para pakar. Berikut konsep-konsep dari Percival & Ellington dan pakar-pakar dari AECT , 1977 - 2004.
Pada halaman 19 – 20 dari buku tentang “Educational Technology, mereka mengutip definisi Council for Educational Technology for the UK , yang menjabarkan teknologi pendidikan sebagai pengembangan, penerapan dan valuasi atas sistem, tehnik, serta alat bantu untuk meningkatkan proses belajar (manusia).
Selain definisi ini, mereka juga mencantumkan definisi yang berasal dari National Centre for Programmed Learning,UK . Definisi tersebut berbunyi antara lain “teknologi pendidikan adalah penerapan pengetahuan ilmiah mengenai belajar dan kondisi belajar untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi pengajaran dan pelatihan.Jika tidak ada temuan atau prinsip ilmiah,maka teknologi pendidikan menggunakan tehnik teruji secara empirik untuk meningkatkan proses belajar ”. Mereka berpendapat pola terapan teknologi pendidikan terjadi berupa proses berulang dan pendekatan sistem sebagai alur berpikir dalam merancang situasi mengajar /belajar dan memanfaatkan metode atau tehnik apa saja yang dianggap sesuai untuk pencapaian tujuan belajar.Pendekatan sistem (dijelaskan pada Kegiatan Belajar 2 modul ini)diharapkan agar dapat diselaraskan dengan rancangan materi dan luwes terhadap perkembangan terbaru proses belajar serta kemajuan di bidang pendekatan mengajar /belajar berikut metodenya.
Definisi Teknologi Pendidikan /Instruksional menurut Association for Educational Communications and Technology atau AECT (Amerika Serikat), Organisasi profesi teknologi pendidikan tertua ini berulang kali merumuskan batasan yang memadai mengenai teknologi pendidikan. Beberapa definisi yang dianggap kokoh dan permanen diantaranya adalah definisi yang diluncurkan oleh Komisi khusus AECT tahun 1977 dan definisi yang diluncurkan oleh Seels &Richey tahun 1994 dan masih disponsori oleh organisasi profesi ini. Berikut rinciannya.
a. Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963
“Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar, mencakup kegiatan : (a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan dalam proses belajar; (b) penstrukturan dan sistematisasi oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan, meliputi : perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.”
Meski masih menggunakan istilah komunikasi audio-visual, definisi di atas telah menghasilkan kerangka dasar bagi pengembangan Teknologi Pembelajaran berikutnya serta dapat mendorong terjadinya peningkatan pembelajaran.

b. Definisi Commission on Instruction Technology (CIT) 1970
“Dalam pengertian yang lebih umum, teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis…..bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya.”
“Teknologi Pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar untuk suatu tujuan khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber manusia dan manusia agar belajar dapat berlangsung efektif.”
Dengan mencantumkan istilah tujuan khusus, tampaknya rumusan tersebut berusaha mengakomodir pengaruh pemikiran B.F. Skinner (salah seorang tokoh Psikologi Behaviorisme) dalam teknologi pembelajaran. Begitu juga, rumusan tersebut memandang pentingnya penelitian tentang metode dan teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan khusus.

c. Definisi Silber 1970
“Teknologi Pembelajaran adalah pengembangan (riset, desain, produksi, evaluasi, dukungan-pasokan, pemanfaatan) komponen sistem pembelajaran (pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar) serta pengelolaan usaha pengembangan (organisasi dan personal) secara sistematik, dengan tujuan untuk memecahkan masalah belajar”.
Definisi yang dikemukakan oleh Kenneth Silber di atas menyebutkan istilah pengembangan. Pada definisi sebelumnya yang dimaksud dengan pengembangan lebih diartikan pada pengembangan potensi manusia. Dalam definisi Silber, penggunaan istilah pengembangan memuat dua pengertian, disamping berkaitan dengan pengembangan potensi manusia juga diartikan pula sebagai pengembangan dari Teknologi Pembelajaran itu sendiri, yang mencakup : perancangan, produksi, penggunaan dan penilaian teknologi untuk pembelajaran.

d. Definisi MacKenzie dan Eraut 1971
“Teknologi Pendidikan merupakan studi sistematik mengenai cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai”
Definisi sebelumnya meliputi istilah, “mesin”, instrumen” atau “media”, sedangkan dalam definisi MacKenzie dan Eraut ini tidak menyebutkan perangkat lunak maupun perangkat keras, tetapi lebih berorientasi pada proses.

e. Definisi AECT 1972
Pada tahun 1972, AECT berupaya merevisi defisini yang sudah ada (1963, 1970, 1971), dengan memberikan rumusan sebagai berikut :
“Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam : identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut”.
Definisi ini didasari semangat untuk menetapkan komunikasi audio-visual sebagai suatu bidang studi. Ketentuan ini mengembangkan gagasan bahwa teknologi pendidikan merupakan suatu profesi.

f. Definisi AECT 1977
“Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana, dan organisasi untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar pada manusia.
Definisi tahun 1977, AECT berusaha mengidentifikasi sebagai suatu teori, bidang dan profesi. Definisi sebelumnya, kecuali pada tahun 1963, tidak menekankan teknologi pendidikan sebagai suatu teori.

g. Definisi AECT 1994
“Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.”
Meski dirumuskan dalam kalimat yang lebih sederhana, definisi ini sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Definisi ini berupaya semakin memperkokoh teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang dan profesi, yang tentunya perlu didukung oleh landasan teori dan praktek yang kokoh. Definisi ini juga berusaha menyempurnakan wilayah atau kawasan bidang kegiatan dari teknologi pembelajaran. Di samping itu, definisi ini berusaha menekankan pentingnya proses dan produk.
Rumusan tahun 1972, “Teknologi pendidikan sebagai bidang garapan yang terlibat dalam penyiapan fasilitas belajar (manusia)melalui penelusuran, pengembangan, organisasi, dan pemanfaatan sistematis seluruh sumber-sumber belajar; dan melalui pengelolaan seluruh proses ini ”. Definisi di atas diambil dan disarikan dari rumusan sebelumnya,yaitu tahun 1963,1970,dan 1971. Sewaktu merumuskan definisi tadi, para pakar menyatakan teknologi pendidikan sebagai bidang garapan. Mereka berusaha mencari peluang keahlian yang dapat dijadikan sebagai ‘pekerjaan ’ dan mengembangkan keahlian tersebut berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh.
Tahun 1977 AECT membedakan dua rumusan teknologi pendidikan dengan teknologi instruksional. (1).teknologi pendidikan didefinisikan sebagai ,“…..proses yang rumit dan terpadu, melibatkan orang,prosedur,gagasan,peralatan,dan organisasi untuk menganalisis dan mengolah masalah,kemudian menggunakan,mengevaluasi, dan mengelola seluruh upaya pemecahan masalahnya yang termasuk dalam seluruh aspek belajar (manusia)”. Sedangkan (2).teknologi instruksional ialah “satu bagian dari teknologi pendidikan – dengan asumsi sebagai akibat dari konsep instruksional sebagai bagian pendidikan –bersifat rumit dan terpadu, melibatkan orang,prosedur, gagasan, peralatan,dan organisasi untuk menganalisis dan mengolah masalah,kemudian menerapkan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah pada situasi dimana proses belajar terarah dan terpantau ”.Rumusan tersebut mengandalkan teknologi pendidikan sebagai suatu proses – kegiatan berkesinambungan,dan merinci kegiatan yang harus dilaksanakan oleh para praktisinya.
Setelah 17 tahun menerapkan konsep yang sama, akhirnya AECT melalui 2 anggotanya meluncurkan definisi terbaru. Rumusan tersebut berbunyi, “teknologi instruksional merupakan teori dan terapan atas rancangan, pengembangan,pemanfaatan,pengelolaan,serta evaluasi atas proses dan sumber-sumber belajar ”.
Kajian atas perubahan rumusan menghasilkan beberapa perdebatan dengan alasan logis. Kajian tersebut yaitu mengenai (1).Perbedaan definisi tahun 1977 dan 1994. Dengan memperhatikan format rumusan ini, terlihat perbedaan menyolok antara kedua rumusan sebelumnya dengan rumusan terbaru. Perbedaan tersebut menyangkut struktur definisi terbaru lebih sederhana dan luwes serta tidak ada pemisahan antara konsep teknologi pendidikan dan teknologi instruksional.
Beberapa alasan yang dikemukakan diantaranya : -proses evolusi teknologi pendidikan/instruksional dari suatu pergerakan (usaha organisasi tertentu) menjadi bidang garapan dan profesi, dimana definisi 1977 menekankan peran para praktisi,laludefinisi 1994 menekankan bidang teknologi instruksional sebagai suatu bidang garapan sekaligus terapan. Pengembangan bidang garapan dilakukan melalui kajian teori serta penelitian Menurut definisi ini, baik proses maupun produk sama pentingnya bagi bidang garapan -Definisi ini erat kaitannya dengan keefektifan dan keefisiensian.
Alasan konsep teknologi instruksional. Dengan usulah hanya rumusan teknologi instruksional, menurut para pakar tadi, berkaitan dengan lingkup yang lebih sempit. Dengan asumsi ini, maka teknologi instruksional dianggap lebih tepat dalam menjabarkan peran teknologi, dan teknologi instruksional dianggap mencakup jenjang pendidikan dari TK sampai dengan SMU, bahkan perguruan tinggi dan termasuk di dalamnya situasi belajar pada program pelatihan.
Alasan kelanggengan nama teknologi pendidikan. Beberapa pihak masih mempertahankan nama teknologi pendidikan. Mereka tetap beranggapan bahwa teknologi instruksional sebagai bagian dari teknologi pendidikan. Istilah teknologi pendidikan digunakan agar bidang garapan menjadi lebih luas (AECT 1977,dan Saettler,1990).Pendidikan sebenarnya bisa diterjemahkan sebagai upaya penyelenggaraan kegiatan belajar di berbagai lingkungan ,termasuk di rumah,sekolah,di kantor,atau di mana saja selama masih memungkinkan terjadi.Instruksional bisa dikonotasikan hanya proses belajar di lingkungan sekolah.
Perdebatan kedua belah pihak mengenai kedua istilah memiliki alasan cukup kuat. Modul ini – sama seperti menurut Seels &Richey – menganggap kedua istilah setara dan dapat digunakan timbal balik .
Peta penggunaan kedua istilah. James D.Finn – perintis teknologi pendidikan – menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian dan tertukar,selama hampir 30 tahun.Istlilah teknologi pendidikan banyak dijumpai di negara Inggris dan Kanada,sedangkan para pakar di AS lebih senang menggunakan istilah teknologi instruksional. IKIP-IKIP di Indonesia menamai jurusannya dengan jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.Istilah teknologi pendidikan dan teknologi instruksional terlihat digunakan kedua-duanya dalam menamai matakuliah yang ditawarkan.
4. Istilah Mengenai Sistemik dan Interaksi
Di bawah ini adalah penjabaran 4 konsep dasar teknologi pendidikan dan teknologi instruksional dari narasumberber berbeda.
Michael Molenda. Menyela diantara kekosongan selama 17 tahun, Molenda (1989) mencoba merumuskan teknologi instruksional sebagai “seni sekaligus ilmu (pengetahuan) mengenai kegiatan merancang, memproduksi dan melaksanakannya dengan cara ekonomis namun anggun /canggih, pemecahan masalah instruksional – dalam bentuk media cetak atau media pandang-dengar, kuliah, atau keseluruhan sistem instruksional – yang mengatur dan mempersiapkan proses belajar dengan efisien dan efektif.Molenda menekankan perpaduan antara unsur seni sekaligus ilmiah dalam menyelenggarakan proses belajar dengan cara berhemat tetapi tidak mengesampingkan mutu hasil belajar.
Robert M Gagne. Bagi Gagne,“teknologi instruksional menyangkut tehnik praktis dari penyampaian instruksional yang melibatkan penggunaan media.Tujuan utama bidang teknologi instruksional adalah meningkatkan dan memperkenalkan penerapan pengetahuan tadi dan memvalidasikan prosedur dalam rancangan dan penyempaian instruksional ”.Gagne menginginkan upaya pengolahan materi belajar menjadi prioritas agar interaksi belajar terjadi.Interaksi belajar timbul karena si belajar sedang menyerap materi dan menginterpretasikannya sendiri – menulis kembali satu alinea,atau mengingat rumus – bisa pula terjadi antara si belajar dengan orang lain,misalnya guru,temannya,atau narasumber lain.
Gary J Anglin. Anglin,1995 mengamati struktur dan prosedur kerja seluruh komponen yang teruji dan rapi ternyata lebih penting.Ia mengatakan,“teknologi instruksional adalah penerapan sistemik dan sistematis (diuraikan pada Kegiatan Belajar 2, modul ini)dari strategi-strategi dan tehnik-tehnik yang berasal dari ilmu perilaku serta ilmu lain untuk mengatasi masalah instruksional ”.
Pernyataannya menegaskan bahwa konsep teknologi instruksional menerapkan atau “meminjam ” bidang lain dalam menciptakan proses belajar kondusif .
Tjeerd Plomp &Donald P Ely. Plomp &Ely berbeda lagi. Dengan merujuk pada konsep Finn, mereka mengungkapkan dua aspek pokok dalam teknologi instruksional.Kedua aspek tersebut yakni :
Teknologi instruksional mengacu pada proses belajar dan pengembangan produk merupakan materi belajar yang telah diuji dan direvisi secara sistematis.
Dengan mengkaji dan mencermati berbagai rumusan teknologi pendidikan sekaligus teknologi instruksional,unsur-unsur termasuk bidang ini yaitu :
• proses belajar
• penciptaan kondisi belajar yang teruji
• penyediaan produk belajar dan sistem penyampaiannya
• penyediaan sumber-sumber belajar lainnya.
5. Issues dan Istilah-istilah sehubungan dengan Teknologi Pendidikan /Instruksional.
a. Teknologi Pendidikan sebagai suatu teknologi
Teknologi pendidikan / instruksional sebagai suatu teknologi telah memenuhi persyaratan, diantaranya :
• ilmiah, yaitu teknologi pendidikan telah teruji melalui serangkaian penelitian/pengembangan teori
• terbuka, berarti teknologi pendidikan dapat diubah, disesuaikan dengan situasi belajar-mengajar
• inovatif, adalah penyesuaian terhadap masukan bidang lain agar tetap berhasil dalam proses belajar
• sistemik, yaitu alur berpikir yang menekankan keterhubungan antar komponen serta pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan belajar.
b. “Technology phobia vs technology fever ”(fobi teknologi vs demam teknologi):
Seringkali ada orang yang “takut ”(terkena aliran listrik) atau ragu-ragu untuk menggunakan teknologi karena kemungkinan teknologi tadi terlihat rumit dan tidak akrab – namun terkadang ada orang yang “sangat” menyukai teknologi sehingga sangat tergantung akan keberadaan teknologi.

c. Istilah sehubungan dengan teknologi pendidikan
• Teknologi dalam pendidikan: produk teknologi yang dimanfaatkan oleh dunia pendidikan,misalnya video dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk hiburan di rumah,tetapi dapat pula dimanfaatkan untuk proses belajar.
• Berbagai produk teknologi lain yang dimanfaatkan untuk kepentingan belajar termasuk dalam penerapan teknologi pendidikan.

C. Teknologi Pendidikan V.S Teknologi Pembelajaran
Berikut, adalah definisi teknologi pendidikan / pembelajaran berdasarkan beberapa definisi dari tahun ke tahun sampai yang terkini.
Comission on Instructional Technology, 1970: A systematic way of designing, implementing, and evaluating the total process of of learning and teaching in terms of specific objectives, based on research in human learning and communication and employing a combination of human and non human resources to bring about more effective instruction.
Suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non-manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.
Jadi, menurut konsep ini tujuan utama teknologi pembelajaran adalah membuat agar suatu pembelajaran lebih efektif. Bagaimana hal itu dilakukan? Dengan cara mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi secara sistematis berdasarkan teori komunikasi dan belajar tentunya, serta memanfaatkan segala sumber baik yang bersifat manusia maupun non-manusia. dengan demikian, sejak tahun 1970an, sudah ada pandangan bahwa manusia (dalam hal ini guru) bukanlah satu-satunya sumber belajar.
AECT (1972):
Educational tehcnology is a field involved in the facilitation of human learning through the systematic identification, development, organization and utilization of full range of learning resources and through the management of these process.
Teknologi pendidikan adalah satu bidang/disiplin dalam memfasilitasi belajar manusia melalui identifikasi, pengembangan, pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar dan melalui pengelolaan proses kesemuanya itu.
Serupa tapi tak sama, bukan? Berdasarkan pengertian ini, jelas dikatakan bahwa teknologi pendidikan adalah suatu disiplin ilmu yang memfokuskan diri dalam upaya memfasilitasi belajar pada manusia. Jadi obyek formal teknologi pendidikan menurut pengertian ini adalah bagaimana memfasilitasi belajar. Dengan cara apa? Melalui identifikasi, pengembangan, pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar. Disamping itu, melalui pengelolaan yang baik dan tepat terhadap proses daripada pengembangan, pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar tersebut.
AECT (1977):
Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia.
Ini adalah definisi yang paling “ribet” menurut saya. Tapi, sudah jelas menurut pengertian ini bahwa obyek formal teknologi pendidilkan adalah memecahkan masalah belajar manusia. Dilakukan dengan cara menganalisis maslah terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah tersebut.
AECT (1994):
Teknologi Instruksional adalah teori dan praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, dan menilai proses-proses maupun sumber-sumber belajar.
Definisi ini lebih operasional dari pada rumusan tahun 1977 yang menurut nampakanya terlalu rumit. Definisi ini menegaskan adanya lima domain (kawasan) teknologi pembelajaran, yaitu kawasan desain, kawasan pengembangan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan, dan kawasan penilaian baik untuk proses maupun sumber belajar. Seorang teknolog pembelajaran bisa saja memfokuskan bidang garapannya dalam salah satu kawasan tersebut.
Tom Cutchall (1999)
Instructional technology is the research in and application of behavioral science and learning theories and the use of a systems approach to analyze, design, develop, implement, evaluate and manage the use of technology to assist in the solving of learning or performance problems. (source: http://www.arches.uga.edu/~cutshall/tomitdef.html)
Definisi menurut Cutchal ini sama seperti definisi AECT 1994. Dia menekankan bahwa teknologi pembelajaran merupakan penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan teori belajar dengan menggunakan pendekatan sistem untuk melakukan analisis, desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja. Tujuan utamanya adalah pemanfaatan teknologi (soft-technology maupun hard-technology) untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja manusia.
AECT (2004):
Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.
Ini adalah definisi terbaru yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik/joyfull) dan meningkatkan kinerja.
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Teknologi pembelajaran / teknologi pendidikan adalah suatu disiplin /bidang (field of study)
2. istilah teknologi pembelajaran dipakai bergantian dengan istilah teknologi pendidikan.
3. tujuan utama teknologi pembelajaran adalah (1) untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran; dan (2) untuk meningkatkan kinerja;
4. dalam mewujudkan tersebut menggunakan pendekatan sistemik (pendekatan yag holistik/komprehensif, bukan pendekatan yang bersifat parsial);
5. kawasan teknologi pembelajaran dapat meliputi kegiatan yang berkaitan dengan analisis, desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, implementasi dan evaluasi baik proses-proses maupun sumber-sumber belajar.
6. teknologi pembelajaran tidak hanya bergerak di persekolahan tapi juga dalam semua aktifitas manusia (seperti perusahaan, keluarga, organisasi masyarakat, dll) sejauh berkaitan dengan upaya memcahkan masalah belajar dan peningkatan kinerja.
7. yang dimaksud dengan teknologi disini adalah teknologi dalam arti yang luas, bukan hanya teknologi fisik (hardtech), tapi juga teknologi lunak (softtech).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Rusman Faoz

Rusman Faoz