Laman

Loading...

Senin, 12 September 2011

Landasan Agama dalam Kepemimpinan Pendidikan

HAKIKAT AGAMA DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN Oleh Rusman Faoz A. Hakikat Agama 1. Hakikat Agama Agama yang pada hakekatnya adalah keyakinan akan adanya Tuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dari waktu ke waktu, semakin terbukti, bahwa “sistem keyakinan”,atau yang secara umum disebut “agama”, apa pun wujud dan bentuknya, adalah fenomena yang senantiasa hadir di tengah manusia. Agama berbicara seputar masalah prinsipil yang diyakini dan menjadi pokok kesadaran serta concern spiritual manusia dalam segala ruang dan waktu. Oleh karena itu, gagasan ini pula disebut “hikmah abadi” atau dalam bahasa Arabnya: al-hikmah al-khalidah. Percaya dan kepercayaan lekat dengan diri pribadi manusia; kita tidak dapat membayangkan manusia dapat hidup dengan wajar tanpa suatu kepercayaan apapun. Dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari, maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan, ataupun dalam bidang filsafat sekalipun, ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari faktor kepercayaan. Faktor kepercayaan ini memegang peranan pertama dan utama di dalam agama, sedangkan bentuk kepercayaan yang tinggi ialah agama. Hakikat agama adalah kepercayaan dan sistem nilai. Dalam dialog tentang iman, Rasulullah menegaskan tentang masalah terpenting dari dïnul-islãm, yaitu adanya interaksi antara seorang mu’min dengan ajaran Allah, yang disampaikan (diajarkan) melalui malaikat-malaikatNya, dalam bentuk kitab-kitab, yang diterima rasul-rasulNya, untuk mencapai tujuan akhir (kehidupan yang baik di dunia dan akhirat), dengan menjadikan ajaran Allah sebagai qadar (ukuran; standard; teori nilai) baik-buruk menurutNya. Didalam agama itu dijumpai sistem nilai, moral dan etika. Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekluaragaan, perkawinan, ekonomi, hukum dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu telah memberikan inspirasi untuk memberontak dan melakukan peperanagan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni. Tidak terdapat suatu institusi lain yang menyajikan suatu lapangan ekspresi dan implliksi begitu halus seperti halnya agama. Ide-ide kagamaan dan konsep-konsep keagamaan itu tidak diperiksa oleh hal-hal yang bersifat fisik saja. 2. Pengertian Agama Ada beberapa orang mengartikan agama secara bahasa, antara lain agama diartikan dengan "menegakan", karena dianggap kata tersebut berasal dari bahasa Arab "Aqoma" (M. Arifin, 1987 : 2). Tetapi arti demikian belum tentu dapat dibenarkan. Kita bandingkan dengan pendapat lain, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa agama adalah kata-kata paralel dengan yang terdapat dalam kata majemuk yang menjadi nama kitab yang berbahasa Jawa Kuno seperti "Negara Kertagama" yang mengandung arti: peraturan-peraturan tentang kemakmuran negara; sedang "Asmaragama" berarti tata cara atau peraturan-peraturan yang berhubungan dengan asmara. Dilihat dari pengertian tersebut, maka kita lebih cenderung untuk menerima arti agama sebagai aturan dan tata cara; bukan berasal dari bahasa Arab "Aqoma" yang artinya menegakan, tetapi berasal dari bahasa jawa. Ada pula yang menyatakan bahwa agama berasal dari bahasa Sangsekerta, dengan arti a = tidak, gama = kacau, jadi agama berarti tidak kacau/teratur (M. Rasyidi, 1984 : 3). Di Barat, agama diucapkan oleh orang Barat dengan Religios (bahasa Latin), Religion (bahasa Inggris, Prancis, Jerman) dan Religie (bahasa Belanda). Istilah ini bukannya tidak mengandung arti yang dalam melainkan mempunyai latar belakang pengertian yang lebih mendalam dari pada pengertian agama yang telah disebut diatas. a. Religie (religion) menurut pujangga Kristen, Saint Augustinus, berasal dari "re dan eligare" yang berarti "memilih kembali" dari jalan sesat kejalan Tuhan. b. Religie menurut Lactantius, berasal dari kata "re dan ligare" yang artinya "menghubungkan kembali sesuatu yang telah putus". Yang dimaksud ialah menghubungkan kembali tali hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh karena dosa-dosa manusia. c. Religie berasal dari "re dan ligere" yang berarti "membaca berulang-ulang bacaan-bacaan suci" dengan maksud agar jiwa si pembaca terpengaruh oleh kesuciannya. Demikian pendapat Cicero (dalam, M. Arifin, 1987 : 4). Baik pengertian agama secara leterlek (letterlijk) maupun religie tersebut di atas belum menggambarkan arti sebenarnya dari apa yang kita maksud dengan pengertian agama secara definitif, karena agama selain mengandung hubungan dengan Tuhan juga hubungan dengan masyarakat. Di dalam agama terdapat peraturan-peraturan yang menjadi pedoman bagaimana seharusnya hubungan-hubungan bermasyarakat dilakukan dalam rangka mencapai kebahagian hidup duniawi maupun ukhrawi. Telah banyak ahli ilmu pengetahuan seperti antropologi, psikologi, sosiologi, dll., mencoba mendefinisikan agama, tetapi banyak pula hasilnya yang tidak memuaskan, dan tidak diperoleh definisi yang hakiki dan seragam. Beberapa definisi agama yang dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut: a. R.R. Marett menyatakan: " Definition of words are always, and religion is the most troublesome of all words to define" (Definisi tentang suatu perkataan adalah selalu mendapat kesulitan dan agama adalah yang paling sulit dari semua perkataan untuk didefinisikan). Inilah salah satu ungkapan dari seseorang antropolog Inggris yang menyatakan kesulitan mendefinisikan agama. Oleh karena menurut dia adalah :"religion in volves more than thought namely feeling and will as well, and may manifest it self on its emotional side even when edition is vague". (Agama menyangkut lebih dari pada hanya fikiran yaitu perasaan dan kemauan juga, dan dapat memanifestasikan dirinya menurut segi-segi emosionalnya walaupun idenya kabur). Namun demikian, mendefinisikan agama dapat juga dilakukan meskipun sangat minimal sebagai mana yang telah dilakukan oleh E. B. Taylor yaitu "Religion is belife in spiritual beings" (Agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib). Karena minimalnya, definisi tersebut menjadi sangat umum dalam pengertiannya, sehingga semua bentuk kepercayaan kepada yang gaib, telah disebut agama (Muhaemin, 1986 : 4). b. J.G. Frazer meberikan definisi agama secara lebih comprehensif (mencakup) dari yang telah disebutkan di atas. Menurut pendapatnya agama adalah "suatu ketundukan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi dari manusia yang dipercayai mengatur dan mengendalikan jalannya alam dan kehidupan umat manusia". Menurut dia, agama itu terdiri dari 2 elemen yakni yang bersifat teoritis dan yang praktis. Yang bersifat teoritis berupa kepercayaan kepada kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, sedang yang bersifat praktis ialah usaha manusia untuk tunduk kepada kekuatan-kekuatan tersebut serta usaha menggembirakannya. Sudah tentu element yang bersifat praktis ini menimbulkan segala bentuk dan tata cara pemujaan yang bisa kita sebut sistem ibadat. Kedua element tersebut oleh Frazer dipandang sebagai condite sine qua no (syarat mutlak) bagi suatu kebudayaan yang disebut "agama". Katanya : "Of the two, belief clearly comes frist . . . But unless the belief leads to corresponding practice, it is not relegion, but merely a theology. On the other hand, more practice divested of all religious belief is also not religion. (Dari dua element tersebut kepercayaan jelas datang lebih dahulu . . . Akan tetapi bilamana kepercayaan tersebut tidak membawa kepada amal ibadat yang sejalan dengan kepercayaan itu, maka hal itu bukanlah agama, melainkan hanya theologie. Sebaliknya amal ibadat semata-mata yang terlepas dari kepercayaan agama, maka hal itu juga bukan agama) (M. Arifin, 1989 : 5). Perbedaan pendapat para ahli antropologi tersebut menguatkan pendapat ahli antropologi Inggris J.G. Frazer bahwa : mungkin tidak ada suatu masalah di dunia ini yang paling banyak mendapatkan tanggapan fikiran (pendapat) yang berbeda-beda seperti halnya terhadap "agama", dan untuk membuat definisi "agama" yang dapat memuaskan setiap orang adalah jelas sangat sulit. Bahkam ada yang beranggapan bahwa membuat definisi agama yang disepakati bersama secara ilmiah itu sesuatu yang mustahil. Sikap yang demikian dikemukakan oleh Prof. C.C. Webb yang menyatakan bahwa "a defintion of religion is needless and impossible.' (Suatu definisi tentang agama adalah sia-sia dan tidak mungkin dibuat). Demikian pula halnya dengan Leuba seorang Profesor dalam bidang sosiologi menganggap sia-sianya mendefinisikan agama. Sikap putus asa seperti itu mungkin karena mereka dibayang-bayangi oleh pengertian "agama" dalam katagori "natural rerelegion" (agama alamiyah) dan "individual religion" (agama perseorangan) yang mengandung anasir kepercayaan yang ruwet (M. Arifin, 1989 : 7). Akan tetapi bila kita rumuskan atas dasar kriteria agama samawi (revelative religion), maka sudah tentu "agama" seharusnya didefinisikan sebagai: "Peraturan Ilahi yang mendorong manusia berakal untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat", atau dalam bahasa Arab disebutkan: ﺡﻼﺻﻠ ﺍ ﻰﻟ ﺍ ﻩﺎﻳ ﺍ ﻤﻫﺭ ﺎﻳﺘﺨ ﺈﺑ ﻞﻭﻘﻌﻠ ﺍ ﻯﻮ ﺬﻠ ﻕﺋ ﺎﺳ ﻰﻬﻟﺍﻊﻀﻮ ﻦﻳ ﺩﻠﺍ ﻥ ﺎﺋﻣﻟﺍ ﻰﻔ ﺡﻼﻔﻟﺍﻮ ﻞ ﺎﺤﻤﻠﺍﻰﻔ Merumuskan definisi agama bagi orang-orang yang memeluk agama samawi tidaklah merupakan hal yang sulit, karena kriterianya telah jelas disebutkan dalam kitab-kitab sucinya, dan agama ini bukan ciptaan manusia, melainkan ditentukan Tuhan sehingga asal usulnya pun tidak berasal pada kondisi dan situasi alam sekitar atau masyarakat. Itulah sebabnya agama wahyu tidak mempersoalkan bagaimanakah asal usul wahyu itu, dan perkembangannya dalam masyarakat dari zaman ke zaman melalui proses evolusi ataukah tidak. Berbeda dengan "natural religion" yang banyak diselidiki oleh para ahli antropologi, sosiologi dan sebaginya yang mempersoalkan hal tersebut di atas sampai masa kini (Sidi Gazalba, 1987 : 32). Karena kesukaran memberi definisi agama, maka para sarjana ada yang mengalihkan persoalan dari definisi agama kepada definisi orang yang beragama. Mercia Eliade dalam bukunya "The Sacred and the Profane" mengatakan : A Religious man is one who recognises the essential differnces between the sacred and the profane and prefers the sacred". Artinya : "Seorang beragama ialah orang menyadari perbedaan-perbedaan pokok antara yang suci dan yang biasa (profane), serta mengutamakan yang suci" (M. Tasjidi, 1974 : 49). Barangkali contoh yang cocok untuk definisi ini pada saat sekarang adalah soal seks. Manusia beragama memandang hubungan seks sebagai suatu hubungan yang penuh dengan arti dan motivasi yang tinggi. Orang yang beragama menjauhi hubungan seks sampai ia dapat menikah atau mendapat jodoh. Dalam pernikahan dilakukan upacara-upacara yang sangat mengesankan, dengan disaksikan oleh sebanyak mungkin keluarga teman dan kenalan. Dengan pernikahan semacam itu, bukan hanya si laki-laki sudah diikat dengan si wanita menjadi ikatan keluarga, tetapi juga keluarga masing-masing telah terikat satu dengan yang lain. Sebaliknya orang yang tidak beragama menganggap hubungan seks sebagai suatu fungsi biologis semata-mata, tanpa mengandung unsur-unsur rohani dan ilahiah. Emile Durkheim, sarjana Prancis yang mengarang buku "Les Formes Elementaires de la Vie Religieuese" (Bentuk-bentuk Elementer dalam Kehidupan Beragama) mencoba memberi definisi agama sebagai berikut : "Religion is an interdependent whole composed of beliefs and rites (faiths and practices) related to sacred things, unites adherents in a single community known as a Church." Artinya: Agama itu adalah suatu keseluruhan yang bagian-bagiannya saling bersandar yang satu pada yang lain, terdiri dari aqidah-aqidah (kepercayaan) dan ibadat-ibadat, semuanya dihubungkan dengan hal-hal yang suci, dan mengikat pengikutnya dalam suatu masyarakat yang disebut Gereja (M. Rasyidi, 1974 : 49). Definisi Durkheim ini mengandung kebenaran akan tetapi tidak seluruhnya. Karena ia hidup dikalangan orang Eropa yang beragama Kristen, maka gambarannya tentang agama sangat dipengaruhi oleh agama Kristen. Perkataan Gereja (church) dalam definisinya menunjukan bahwa ia hanya melihat pada lingkungannya sendiri, yaitu masyarakat kristen. Dalam buku sosiologi karangan Ogburn dan Nimhoff dari The Florida State University terdapat suatu usul definisi yang lebih dapat diterima, yang bunyinya sebagai berikut : "Religion is a system of beliefs, emotional attitudes and practices by means of which a group of people attempt to cope with ultimate problems of human life." Artinya : Agama itu adalah suatu pola aqidah-aqidah (kepercayaan), sifat-sifat emosional dan praktek-prktek yang dipakai oleh sekelompok manusia untuk mencoba memecahkan soal-soal "ulltimate" dalam kehidupan manusia. Definisi tersebut mengandung empat unsur, yaitu: kepercayaan, emosi, sosial dan sangat penting (mutlak). Unsur yang terkandung dalam perkataan "ultimate" yang berarti, "yang sangat penting", "yang tak ada yang lebih penting dari padanya" atau "yang mutlak" (Joesoef Sou'yb, 1983 : 324). Tetapi, walaupun definisi di atas mengandung hal-hal yang tidak terdapat dalam definisi-definisi lainnya, namun definisi tersebut belum cocok dengan agama Islam. Definisi tersebut di atas memberi kesan seakan-akan agama itu hanya merupakan fenomena atau gejala-gejala sosial, sedangkan dalam agama Islam adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa sebagai petunjuk untuk manusia. Bagi orang Islam, agama itu tidak lain dari aturan-aturan Allah bagi manusia yang berakal untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Agama (ad-din) dalam bahasa Arab memang mengandung arti aturan-aturan atau ketetapan, dalam hal ini ketetapan atau aturan itu datang dari Allah, dan dalam keyakinan ummat Islam, hanya agama Islam yang diridhai oleh Allah, hal ini didasarkan kepada Al-Quran surat Ali Imran : 85 sebagai berikut : Artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (Al-Quran Terjemah, Depag RI. 1984 : 90). Jadi yang dimaksud agama dalam tulisan ini aturan-aturan Allah yang diturunkan kepada Rosulullah untuk dilaksanakan oleh semua manusia yang berakal dan meyakini (iman) dengan tujuan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. 3. Sumber Agama Dalam pandangan para ahli ilmu sosiologi, yang menjadi sumber ajaran agama itu adalah kehidupan social masyarakat. Adapun dalam pendangan psikologi yang menjadi sumber agama itu adalah individu atau pribadi orang yang beragama. Mereka yang beranggapan demikian umumnya berlaku bagi agama ardhi. B. KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN 1. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan Kepemimpinan boleh didefinisikan sebagai suatu proses yang kompleks di mana dengannya seseorang itu (pemimpin) mempengaruhi orang-orang lain (pengikut) melaksanakan dan menyempurnakan misi, tugasan, atau objektif-objektif dan dengan itu membawa organisasi menjadi lebih jelekit dan bersepadu. Stogdill (1974: 259) menyimpulkan bahwa terdapat hampir sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah orang yang telah mencoba mendefinisikannya. Lebih lanjut, Stogdill (1974: 7-17) menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai konsep manajemen dapat dirumuskan dalam berbagai macam definisi, tergantung dari mana titik tolak pemikirannya. Misalnya, dengan mengutip pendapat beberapa ahli, Paul Hersey dan Kenneth H Blanchard (1977: 83-84) mengemukakan beberapa definisi kepemimpinan, antara lain: a. Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry) b. Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H.Koontz dan C. O'Donnell) c. Kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum, Irving R, F. Massarik). Untuk lebih mendalami pengertian kepemimpinan, di bawah ini akan dikemukakan beberapa definisi kepemimpinan lainnya seperti yang dikutip oleh Gary Yukl (1996: 2), antara lain: a. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi (Katz dan Kahn) b. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan (Rauch dan Behling) c. Kepemimpinan adalah proses memberi arti terhadap usaha kolektif yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs dan Jacques) Menurut Wahjosumidjo (1984: 26) butir-butir pengertian dari berbagai definisi kepemimpinan, pada hakekatnya memberikan makna: a. Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian, kemampuan, dan kesanggupan. b. Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri c. Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau interaksi antara pemimpin, bawahan dan situasi. Donald Clark (1997) menyatakan; "The basis of good leadership is honourable character and selfless service to your organization. In your employee's eyes, your leadership is everything you do that effects the organization's objectives and their well being. A respected leader concentrates on what she is (be) (beliefs and character), what she knows (job, tasks, human nature), and what she does (implement, motivates, provide direction). Apa yang menyebabkan seseorang itu mau mengikuti seseorang pemimpin? Orang mau dipimpin oleh orang yang mereka hormati dan seseorang pemimpin yang mempunyai 'clear sense of direction'. Untuk mendapat penghormatan, pemimpin mesti beretika dan memiliki kharisma guna mencapai tujuan yang dapat dicapai dengan menyampaikan visi masa depan yang kuat. Jadi pada dasarnya anda mestilah boleh dipercayai dan anda boleh mengkomunikasikan visi berhaluan yang dituju. Jika anda seorang pemimpin yang boleh dipercayai, maka orang di sekeliling anda akan belajar menghormati anda. Di peringkat operasional seseorang pemimpin mestilah mempunyai tiga ciri penting yang mesti pula diterjemahkan dan direalisasikan di dalam seluruh budaya kerja dan budaya organisasi dan dihayati oleh seluruh ahli organisasi. Tiga ciri utama tersebut ialah menggabungkan visi, penggunaan sumber (manusia, modal dan sebagainya) serta nilai. Hanya seorang pemimpin yang ada visi saja yang dapat membawa organisasi dan pengikutnya menuju wawasan, yang mampu menggerakkan dan mendorong subordinat dengan meletak dan memberi nilai yang tinggi dalam semua aspek kelangsungan survival individu dan organisasi. Dari berbagai definisi yang ada, maka dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah a. Seni untuk menciptakan kesesuaian paham b. Bentuk persuasi dan inspirasi c. Kepribadian yang mempunyai pengaruh d. Tindakan dan perilaku e. Titik sentral proses kegiatan kelompok f. Hubungan kekuatan/kekuasaan g. Sarana pencapaian tujuan h. Hasil dari interaksi i. Peranan yang dipolakan j. Inisiasi struktur Berbagai pandangan atau pendapat mengenai batasan atau definisi kepemimpinan di atas, memberikan gambaran bahwa kepemimpinan dilihat dari sudut pendekatan apapun mempunyai sifat universal dan merupakan suatu gejala sosial. Dari berbagai definisi kepemimpinan di atas terdapat beberapa unsur yang bersamaan yang terdapat dalam proses kepemimpinan, yaitu : a. Kepemimpinan merupakan suatu proses b. Adanya tujuan c. Adanya orang yang mempengaruhi dan dipengaruhi d. Kepemimpinan berlangsung dalam situasi yang tertentu e. Kepemimpinan berlangsung dengan menggunakan teknik tertentu f. Fungsi kepemimpinan adalah untuk mempengaruhi atau menggiatkan orang lain. g. Dalam merealisasikan tujuan terdapat proses interaksi antara pemimpin dan yang dipimpin. Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi tindakan-tindakan orang-orang tertentu dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai dan dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan matlamat atau sasaran yang telah dirancang sebelumnya secara sukarela. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini boleh dilaksanakan diberbagai bidang kehidupan manusia termasuk di bidang Pendidikan. Dalam hal ini, Hadari Nawawi mengemukakan pengertian kepemimpinan pendidikan sebagai berikut : “Kepemimpinan pendidikan adalah proses mempersatukan buah pikiran dan pendapat untuk mewujudkan menjadi kesatuan gerak yang terarah pada pencapaian tujuan lingkungan, personel sekolah, yang didalamnya terkandung makna menggerakkan, memotivasi orang lain dan kelompok agar bersedia melakukan tugas-tugas sebagai rekan kerja di sekolah” Ahmad Rohani Abu Ahmadi mendefinisikan kepemimpinan Pendidikan sebagai berikut : “Kepemimpinan Pendidikan yaitu proses kegiatan mempengaruhi, menggerakkan dan mengkoordinasikan individu-individu organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan”. Burhanuddin mengemukakan: “Kepemimpinan pendidikan adalah merupakan suatu kesiapan, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran, agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan”. Bagi memperjelaskan pengertian kepemimpinan pendidikan, Dirawat dan kawan-kawan merumuskan definisi kepemimpinan pendidikan sebagai berikut: Kepemimpinan pendidikan merupakan satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran. Dari beberapa difinisi kepemimpinan pendidikan diatas, dapat dirumuskan bahwa setiap usaha untuk mempengaruhi orang-orang, yang bersifat positif ada hubungannya dengan pekerjaan mendidik dan mengajar, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dicapai dengan lebih berkesan, maka dapat dikatakan bahwa usaha itu melakukan perbaikan kualitas kepemimpinan pendidikan atau meningkatkan Sumber Daya Manusianya. Berdasarkan uraian di atas, kualitas kepemimpinan Kepala Sekolah dapat diartikan sebagai kecakapan atau kemampuan yang dimiliki seseorang di dalam mempengaruhi sekelompok orang atau kecakapan mengkoordinir, menggerakkan dan membimbing personel sekolah mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran 2. Teori Kepemimpinan Pendidikan Pendidikan sebagai institusi membutuhkan kepemimpinan yang handal, dilandasi oleh nilai-nilai agama. Teori kepemimpinan pendidikan membicarakan bagaimana seseorang menjadi pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin pendidikan. Ada beberapa teori tentang kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan pendidikan. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (1993: 132-133) "pada dasarnya ada dua teori kepemimpinan, yaitu teori sifat (traits theory) dan teori situasiaonal (situational theory)". Sementara Wursanto (2004: 197) menyatakan ada enam teori kepemimpinan, yaitu; teori kelebihan, teori sifat, teori keturunan, teori kharismatik, teori bakat, dan teori sosial. Miftah Thoha mengelompokannya kedalam; teori sifat, teori kelompok, teori situasional, model kepemimpinan kontijensi, dan teori jalan kecil-tujuan (path-goal theory). Berdasarkan pernyataan tersebut dalam membahas kepemimpinan pendidikan tidak terlepas dari pengelompokan kepemimpinan secara umum. Oleh sebab itu di bawah ini diuraikan beberapa teori kepemimpinan pendidikan yang didasarkan pada teori kepemimpinan pada umumnya. a. Teori kelebihan, yang beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup tiga hal, (Wursanto, 2003: 197-198). pertama; kelebihan ratio, ialah kelebihan menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, Kedua; Kelebihan Rohaniah, berarti seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada bawahan. Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri tauladan bagi para pengikutnya, Ketiga, Kelebihan Badaniah; Seorang pemimpin hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga memungkinkannya untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi masalah kelebih an badaniah ini bukan merupakan faktor pokok. (Wursanto, 2003: 197-198). b. Teori sifat, Pada dasarnya sama dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang lebih daripada yang dipimpin. Di samping memiliki kelebihan pada ratio, rohaniah dan badaniah, seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat yang positif, misalnya; adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif, mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif. (Wursanto, 2003: 198). Menurut Miftah Thoha (2003:32-33) bahwa sesungguhnya tidak ada korelasi sebab akibat antara sifat dan keberhasilan manajer, pendapatnya itu merujuk pada hasil penelitian Keith Davis yang menyimpulkan ada empat sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu; 1) Kecerdasan ( di atas disebutkan kelebihan ratio). Hasil penelitian pada umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin. Namun demikian pemimpin tidak bisa melampaui terlalu banyak dari kecerdasan pengikutnya, 2) Kedewasaan dan keleluasaan hubungan sosial, para pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas-akltivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai, 3) Motivasi dan dorongan berprestasi, para pemimpin secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka berusaha mendapatkan penghargaan yang instrinsik dibandingkan dari yang ekstrinsik, 4) Sikap-sikap hubungan kemanusiaan, para pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya, dalam istilah penelitian Universitas Ohio pemimpin itu mempunyai perhatian, dan kalau mengikuti istilah penemuan Michigan, pemimpin itu berorientasi pada karyawan bukannya berorientasi pada produksi. Hal serupa juga dinungkapkan oleh Adam Ibrahim Indrawijaya dalam bukunya prilaku organisasi ( 1983: 132-133). c. Teori keturunan, yang menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin karena keturunan atau warisan. Karena orang tuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikan orang tuanya, seolah-olah seseorang menjadi pemimpin karena ditakdirkan. d. Teori kharismatik, yang menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena mempunyai karisma (pengaruh) yang sangat besar. Karisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini ada suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran Zat Tunggal, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib (supranatural power). Pemimpin yang bertipe karismatik biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. e. Teori bakat, yang disebut juga teori ekologis, menyatakan bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi pemimpin karena mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin. Bakat kepemimpinan itu harus dikembang kan, misalnya dengan memberi kesempatan orang tersebut menduduki suatu jabatan. f. Teori Sosial, beranggapan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui pendidikan formal maupun melalui pengalaman praktek. g. Teori Kelompok, beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Teori kelompok ini dasar perkembangan nya pada psikologi sosial. h. Teori Situasional, menyatakan bahwa beberapa variabel-situasional mempunyai pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan perilakunya termasuk pelaksanaan kerja dan kepuasan pengikutnya. Beberapa variabel sitasional di identifikasikan, tetapi tidak semua ditarik oleh situasional ini. i. Model kepemimpinan kontingensi, yang ditemukan Fiedler sebagai hasil pengujian hipotesa yang telah dirumuskan dari penelitiannya terdahulu. Model ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris berikut ini: 1) Hubungan pimpinan-anggota. Variabel ini sebagai hal yang paling menentu kan dalam menciptakan situasi yang menyenangkan, 2) Derajat dari struktur tugas. Dimensi ini merupakan urutan kedua dalam menciptakan situasi yang menyenangkan, 3) Posisi kekuasaan pemimimpin yang dicapai lewat otoritas formal. Dimensi ini merupakan urutan ketiga dalam menciptakan situasi yang menyenangkan. (Miftah Thoha, 2003: 37-38). j. Teori Jalan Tujuan (Path-Goal Theory) yang mula-mula dikembang kan oleh Geogepoulos dan kawan-kawannya di Universitas Michigan. Pengembangan teori ini selanjutnya dilakukan oleh Martin Evans dan Robert House. Secara pokok teori path-goal dipergunakan untuk menganalisa dan menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan kerja bawahan. Ada Dua faktor situsional yang telah diidentifikasikan, yaitu sifat personal para bawahan, dan tekanan lingkungan dengan tuntutan-tuntutan yang dihadapi oleh para bawahan. Untuk situasi pertama teori path-goal memberikan penilaian bahwa perilaku pemimpin akan bisa diterima oleh bawahan jika para bawahan melihat perilaku tersebut merupakan sumber yang segera bisa memberikan kepuasan, atau sebagai suatu instrumen bagi kepuasan masa depan. Adapun faktor situasional kedua, path-goal, menyatakan bahwa perilaku pemimpin akan bisa menjadi faktor motivasi terhadap para bawahan, jika; a. Perilaku tersebut dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan bawahan sehingga memungkinkan tercapainya efektivitas dalam pelaksanaan kerja, b. Perilaku tersebut merupakan komplimen dari lingkungan para bawahan yang berupa memberikan latihan, dukungan, dan penghargaan yang diperlukan untuk mengefektifkan pelaksanaan kerja. (M. Thoha, 2003: 49). 3. Tipe-Tipe Kepemimpinan Pendidikan Tipe kepemimpinan sering disebut perilaku kepemimpinan atau gaya kepemimpinan (leadership style). Miftah Toha (2003:49 ) gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh karenanya usaha menselaraskan persepsi di antara yang akan mempengaruhi dengan orang yang perilakunya akan dipengaruhi menjadi amat penting. Duncan menyebutkan ada tiga gaya kepemimpinan, yaitu; otokrasi, demokrasi, dan gaya bebas (the laisser faire).(Adam Ibrahim Indrawijaya, 1938:135). Wursanto (2003) menambahkan tipe (gaya) paternalistik, militeristik, dan open leadership. Sementara Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana (2000: 78) melengkapinya dengan gaya kepemimpinan partisipatif, berorientasi pada tujuan, dan situasional. Di bawah ini akan diuraikan tipe-tipe (gaya-gaya) kepemimpinan tersebut di atas dengan maksud memberikan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan perbedaannya, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam memahami gaya kepemimpinan disebabkan pengistilahan yang berbeda padahal maksud dan tujuannya sama. a. Kepemimpinan Otokrasi Kepemimpian otokrasi disebut juga kepemimpinan diktator atau direktif. Orang yang menganut pendekatan ini mengambil keputusan tanpa berkonsultasi dengan para karyawan yang harus melaksanakannya atau karyawan yang dipengaruhi keputusan tersebut (Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 161). Menurut Wursanto (2003:201) kepemimpinan otokrasi adalah kepemimpinan yang mendasarkan pada suatu kekuasaan atau kekuatan yang melekat pada dirinya. Kepemimpinan otokrasi dapat dilihat ciri-cirinya : 1) mengandalkan kepada kekuatan atau kekuasaan yang melekat pada dirinya, 2) Menganggap dirinya paling berkuasa, 3) Menganggap dirinya paling mengetahui segala persoalan, orang lain dianggap tidak tahu, 4) keputusan-keputusan yang diambil secara sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari bawahan, bahkan ia tidak memberi kesempatan kepada bawahan untuk meberikan saran, pendapat atau ide, 5) Keras dalam menghadapi prinsip, 6) Jauh dari bawahan, 7) lebih menyukai bawahan yang bersikap abs (asal bapak senang), 8) perintah-perintah diberikan secara paksa, 9) pengawasan dilakukan secara ketat agar perintah benar-benar dilaksanakan. b. Kepemimpinan Demokrasi Gaya atau tipe kepemimpinan ini dikenal pula dengan istilah kepemimpin an konsultatif atau konsensus. Orang yang menganut pendekatan ini melibatkan para karyawan yang melaksanakan keputusan dalam proses pembuatannya, walaupun yang membuat keputusan akhir adalah pemimpin, setelah menerima masukan dan rekomendasi dari anggotan tim. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (1983: 82) "Gaya kepemimpinan demokratis pada umumnya berasumsi bahwa pendapat orang banyak lebih baik dari pendapatnya sendiri dan adanya partisipasi akan meninbulkan tanggung jawab bagi pelaksananya".Asumsi lain bahwa partisipasi mem berikan kesempatan kepada para anggota untuk mengembangkan diri mereka. c. Kepemimpinan Laisser Faire Kepemimpinan laissez faire (gaya kepemimpinan yang bebas) adalah gaya kepemimpinan yang lebih banyak menekankan pada keputusan kelompok. Dalam gaya ini, seorang pemimpin akan menyerahkan keputusan kepada keinginan kelompok, apa yang baik menurut kelompok itulah yang menjadi keputusan. Pelaksanaannya tergantung kepada kemauan kelompok. (A.Ibrahim,1983: 136). Pada umumnya tipe laissez faire dijalankan oleh pemimpin yang tidak mempunyai keahlian teknis. Tipe laissez faire mempunyai ciri-ciri antara lain; 1) Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada bawahan untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas masing-masing, 2) Pimpinan tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, 3) Semua pekerjaan dan tanggungjawab dilimpahkan kepada bawahan, 4) Tidak mampu melakukan koordinasi dan pengawasan yang baik 5) Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak ditakuti apalagi disegani bawahan, 6) Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan, ia hanya merupakan simbol belaka. (Wusanto, 2003). Menurut hemat penulis tipe laissez faire ini bukanlah tipe pemimpin yang sebanarnya, karena ia tidak bisa mempengaruhi dan menggerakkan bawahan, sehingga tujuan organisasi tidak akan tercapai. d. Kepemimpinan Partisipatif Kepemimpinan partisipatif dikenal dengan istilah kepemimpinan terbuka, bebas atau nondirective. Pemimpin yang menganut pendekatan ini hanya sedikit memegang kendali dalam proses pengambilan keputusan. Ia hanya sedikit menyaji kan informasi mengenai suatu permasalahan dan memberikan kesempat an kepada anggota tim untuk mengembagkan strategi dan pemecahannya, ia hanya mengarahkan tim kearah tercapainya konsensus. e. Kepemimpinan Paternalistik Tipe paternalistik adalah gaya kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan dalam batas-batas kewajaran. Ciri-ciri pemimpin paternalistik menurut Wursanto, 2003: 202): 1) Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak, 2) Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa, 3) selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan yang kadang-kadang berlebihan, 4) Keputusan ada ditangan pemimpin, bukan karena ingin bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan memberikan kemudahan kepada bawahan. Karena itu bawahan jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kapada pimpinan, dan Pimpinan jarang bahkan tidak pernah meminta saran dari bawahan, 5) Pimpinan menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan. f. Kepemimpinan Berorientasi Pada Tujuan Gaya kepemimpinan ini juga disebut kepemimpinan berdasarkan hasil atau sasaran. Penganut pendekatan ini meminta bawahan (anggota tim) untuk memusatkan perhatiannya pada tujuan yang ada. Hanya strategi yang dapat menghasilkan kontribusi nyata dan dapat diukur dalam mencapai tujuan organisasilah yang dibahas, faktor lainnya yang tidak berhubungan dengan tujuan organisasi diminimumkan. (Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 162). g. Kepemimpinan Militeristik Kepemimpinan militeristik tidak hanya terdapat di kalangan militer saja, tetapi banyak juga terdapat pada instansi sipil (non-militer). Ciri-ciri kepemimpin an militeristik antara lain menurut (Wursanto, 2003 ) sebagai berikut: (1) Dalam komunikasi lebih banyak mempergunakan saluran formal, (2) Dalam menggerakkan bawahan dengan sistem komando/perintah, baik secara lisan ataupun tulisan, (3) Segala sesuatu bersifat formal, (4) Disiplin tinggi, kadang-kadang bersifat kaku, (5) Komunikasi berlangsung satu arah, bawahan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat, (6) Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap semua perintah yang diberikannya. h. Kepemimpinan Situasional Gaya kepemimpinan ini dikenal juga sebagai kepemimpinan tidak tetap (fluid) atau kontingensi. Asumsi yang digunakan dalam gaya ini adalah bahwa tidak ada satu pun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap manajer dalam segala kondisi. Oleh karena itu gaya kepemimpinan situasional akan menerapkan suatu gaya tertentu berdasarkan pertimbangan atas faktor-faktor seperti pemimpin, pengikut, dan situasi (dalam arti struktur tugas, peta kekuasaan, dan dinamika kelompok. C. HAKIKAT AGAMA DALAM MEMBERIKAN LANDASAN POLA KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN Dalam Islam istilah kepemimpinan dikenal dengan kata Imamah, sedangkan kata yang terkait dengan kepemimpinan dan berkonotasi pemimpin dalam Islam ada tujuh macam, yaitu Khalifah, Malik, Wali, 'Amir dan Ra'in, Sultan, Rais, dan Ulil 'amri, (Abdurrahman, 2002). Menurut Quraish Shihab (2000: 47), imam dan khalifah dua istilah yang digunakan Al-Qur'an untuk menunjuk pemimpin. Kata imam diambil dari kata amma-ya'ummu, yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Kata khalifah berakar dari kata khalafa yang pada mulanya berarti "di belakang". Kata khalifah sering diartikan "pengganti" karena yang menggatikan selalu berada di belakang, atau datang sesudah yang digantikannya. Selanjutnya ia menyatakan bahwa Al-Qur'an menggunakan kedua istilah ini untuk menggambarkan ciri seorang pemimpin, ketika di depan menjadi panutan, dan ketika di belakang mendorong, sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh yang dipimpinnya. Kepemimpinannya disebut Al-Khilafah yang berarti kekuasaan yang diatur menurut Syari’ah Islam, sebagaimana dijanjikan Allah swt. Dalam firmannya: Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai – Nya ! untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. (An-Nur : 55). 1. Prinsip Dasar Kepemimpinan Islam Ada beberapa dasar kepemimpinan dalam Islam yang harus dijadikan landasan termasuk di dalam masalah kepemimpinan pendidikan, di antarnya ialah; a. Tidak mengambil orang kafir atau orang yang tidak beriman sebagai pemimpin bagi orang-orang muslim karena bagaimanapun akan mempengaruhi terhadap kualitas keberagamaan yang dipimpinnya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an; Surat An-Nisaa: 144; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? b. Tidak mengangkat pemimpin dari orang-orang yang mempermainkan Agama Islam, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Maidah: 57; Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. b. Pemimpin harus mempunyai keahlian di bidangnya, pemberian tugas atau wewenang kepada yang tidak berkopenten akan mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. "Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya". ( H. R. Bukhori dan Muslim ). 4. Pemimpin harus bisa diterima (acceptable), mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan dan didoakan umatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. ; "Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu." ( H.R. Muslim). 5. Pemimpin harus mengutamakan, membela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksanakan syari'at, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, Surat Al-Maidah: 8: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan anganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Khalifah sebagai kepala negara dan sebagai pimpinan pemerintahan Islam tentu tidaklah semua orang bisa menduduki jabatan tersebut, tetapi harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang tertentu. Hal itu karena tugas pemimpin negara, sangat berat menyangkut nasib umat dan nasib agama Allah yaitu agama Islam. Diantara persyaratan yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain ialah: 1. Mengerti hukum Syari’ah secara baik dan diakui ketakwaannya kepada Allah. Syarat pengetahuan tentang hukum syari’ah itu cukuplah penting, karena pemimpin sebagai penegak hukum Allah tentunya ia sendiri harus memahami apa-apa yang akan ditegakan dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Pemimpin yang tidak mengetahui dan tidak memahami akan hukum-hukum Allah maka besar kemungkinan ia akan menyimpang dari ajaran syari’ah yang seharusnya ditegakan. Lebih dari itu pimpinan yang tidak memahami syari’ah itu akan menimbulkan pengaruh bagi masyarakat dan rakyat umum kearah penyimpangan yang lebih jauh lagi. Begitu pula ketakwaan merupakan syarat penting pula karena pemimpin akan merupakan suri teladan bagi seluruh umat yang dipimpinnya. Pemimpin yang tidak takwa kepada Allah tidaklah mungkin ia akan mampu untuk mengarahkan orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang takwa, maka akan gagal missi khilafahnya. 2. Seorang pemimpin haruslah memiliki kecerdasan akal pikiran serta berpengetahuan yang cukup. Syarat itu adalah wajar karena pemimpin akan memimpin umat yang beraneka ragam. Umat yang dipimpin itu kemungkinan besar akan terdiri dari orang-orang yang berbeda-beda, baik adat kebiasaannya, asal usul kebangsaannya, bahasa yang diucapkannya bahkan mungkin berbeda dalam beberapa segi cita-citanya. Untuk memimpin umat yang beraneka ragam itu, akan memerlukan kemampuan berfikir dari seorang pemimpin untuk memecahkan segala masalah kehidupan bersama. Selai itu, memimpin negara berarti harus memajukan dan meningkatkan kemampuan dan tarap hidup rakyat seluruhnya dan dalam segala kehidupannya. Oleh karena itu orang yang tidak mempunyai kecerdasan berpikir dan tidak cukup berpengetahuan, tidak akan mampu membangun negara dan bangsanya, karena keterbatasan cara berpikir dan pengetahuan yang dimilikinya. Allah telah menempatkan orang-orang yang berkemampuan berpikir dan berpengetahuan itu pada derajat yang lebih tinggi. Firman Allah swt: Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.. (Al-Mujadalah:11). 3. Harus memiliki akhlak mulia, bersikap adil dan jujur serta bertanggung jawab. Akhlak mulia itu merupakan suatu hal yang mutlak bagi pemimpin, karena pemimpin adalah teladan bagi seluruh rakyat, maka seorang pemimpin perlu memiliki akhlak yang baik. Sikap adil, jujur dan bertanggung jawab itu merupakan sikap mental yang sangat mulia. Secara sederhana keadilan itu ialah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sebenarnya dan selayaknya, dalam arti hakiki. Keadilan seorang pemimpin sangat menentukan rakyatnya, karena dengan keadilan itu akan membuat semua rakyat menjadi tenteram dan penuh kedamaian sehingga semua orang akan menjadi puas. Sebaliknya seorang pemimpin yang berlaku aniaya akan membuat rakyatnya menjadi resah, oleh karenanya pemimpin akan dibenci dan dikutuk rakyatnya. Orang yang adil akan berani membela kebenaran, walaupun terhadap dirinya, orang lain, terhadap si kaya maupun terhadap si miskin. Allah memerintahkan setiap orang yang beriman untuk bersikap adil, sebagaimana firman-Nya : Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kami orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (An-Nisa:135). 4. Mampu Memimpin dan Bersikap Tegas Hal ini sangat penting, karena dengan sikap yang demikian, lawan tidak akan berani mempermainkan. Sikap yang demikian itu, akan sangat membantu tegaknya khilafah dan kepemimpinannya. Demikian pula sebaliknya seorang khilafah juga harus bersikap mengayomi dan bersikap kasih sayang terhadap sesama umat Islam. Dengan sikap itu khilafah akan menjadi kokoh, karena semua umat akan mendukung semua gagasan khilafah dan akan sangat membantu suksesnya program pembangunan negaranya. Sikap dan sifat tersebut telah dicontohkan Allah melalui Rasul-Nya Muhammad saw, sebagaimana dikemukakan Allah dalam firmanNya sebagai berikut: Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Fath:29). 5. Bijaksana dan Bersikap, Mendidik dalam Mengajak Agar ajakannya mudah diterima dan tidak bersikap antipati. Sikap ini merupakan sikap yang penting dalam mengemban tugas khilafah. Sikap demikian ikut menentukan berhasil atau tidaknya tugas pemerintahan seorang khilafah atau kepala negara. Allah telah menunjukan dengan firmanNya, sebagai berikut : Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl:125). 6. Pilihan rakyat. Ini berarti seorang pemimpin adalah orang yang disukai oleh seluruh umat Islam atau paling tidak akan sebahagian besar umat Islam. Pemimpin yang tidak atas pilihan rakyat akan lebih tidak disukai oleh rakyat dan oleh karenanya segala perintahnya dan segala gagasannya tidak akan mendapat sambutan rakyat. Akibat Pemimpin yang tidak akan pilihan rakyat itu, misi Khilafahnya akan menjadi gagal. Cara pemilihan Pemimpin oleh rakyat atau oleh umat itu biasa secara langsung melalui pemungutan suara secara umum (referendum) atau pemilihan melalui wakil-wakil rakyat atau ahlul halli wal aqdi baik melalui pemungutan suara (voting) atau dengan cara musyawarah untuk mufakat. Cara musyawarah untuk mufakat itu merupakan cara yang terbaik, karena cara ini tidak hanya menitikberatkan pada pendapat yang banyak saja, tetapi didasarkan atas kualitas atau kebenaran pendapat yang diajukan, sehingga melalui musyawarah ini hal-hal yang masih dianggap kurang mantap, akan dimantapkan oleh pendapat-pendapat dari pihak lain, sehingga keputusan yang dicapai merupakan keputusan bersama secara mutlak. Firman Allah SWT: Artinya: Sedang urusan mereka( diputuskan) dengan musyawarah antara mereka. (Asy-Syura:38) Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.. (Ali-Imran:159 Dari hasil penelaahan para pakar yang dirangkum dari Al-Qur'an dan Hadits, ditemukan empat sifat yang harus dipenuhi oleh para Nabi, yang pada hakekatnya adalah pemimpin ummat, yaitu; (1) Al-Shidq, yakni kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap serta berjuang melaksanakan tugasnya (2) Al-Amanah, atau kepercayaan yang menjadikan dia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya, baik dari Allah maupun dari orang-orang yang dipimpinnya, sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak. (3) Al-Fathanah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul seketika sekalipun. (4) At-Tabligh, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab, atau dapat diistilahkan dengan keterbukaan. (Quraish Shihab, 2000: 47-48) 2. Teladan Rosulullah dalam Kepemimpinan Pendidikan Nabi Muhammad saw sebagai model pemimpin sejati sebagaimana ditegaskan dalam Al qur’an surat Al Ahzab ayat 21 “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. Melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah uswah (contoh, teladan, anutan) bagi manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya di muka bumi, termasuk dalam kepemimpinan pendidikan. Bagaimana Nabi Muhammad saw menyampaikan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan kepada sahabat dan ummatnya, bagaimana Rosulullah Muhammad saw membentuk karakter para sahabatnya dan ummat percontohan di Negara Madinah, semuanya mengandung pesan-pesan termasuk bagi para pemimpin pendidikan saat ini. Sosok sahabat yang merupakan murid langsung dari Nabi Muhammad, semuanya menampilkan pribadi mulia, akhlak mulia menjadi karakter yang melekat, mental kepemimpinan juga menjadi bagian integral dari karakternya, sehingga sangat layak bagi pemimpin pendidikan sekarang untuk menjadikan gaya kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai rujukan utama. Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani : Artinya : “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas).” (H.R. Thabrani) Arah pekerjaan yang jelas, landasan yang mantap dan cara-cara mendapatkannya yang transparan merupakan amal perbuatan yang dicintai Allah swt. Sebenarnya, manajemen dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik, tepat dan tuntas merupakan hal yang disyari’atkan dalam ajaran Islam. Demikian pula dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abi Ya’la, Rasulullah saw bersabda : Artinya : “Allah swt mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu.” (H.R. Muslim) Kata ihsan bermakna ‘melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal’. Tidak boleh seorang muslim melakukan sesuatu tanpa perencanaan, tanpa adanya pemikiran dan tanpa adanya penelitian, kecuali sesuatu yang sifatnya emergency. Akan tetapi, pada umumnya hal yang kecil hingga hal yang besar, harus dilakukan secara ihsan, secara optimal, secara baik, benar dan tuntas. Demikian pula ketika kita melakukan sesuatu itu dengan benar, baik, terencana dan terorganisasi dengan rapi, maka kita akan terhindar dari keragu-raguan dalam memutuskan sesuatu atau dalam mengerjakan sesuatu. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang didasarkan pada keragu-raguan. Sesuatu yang didasarkan pada keragu-raguan biasanya melahirkan hasil yang tidak optimal dan mungkin akhirnya tidak bermanfaat. Oleh karena itu, dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah saw bersabda : Artinya : “Tinggalkan oleh engkau perbuatan yang meragukan, menuju perbuatan yang tidak meragukan.” (H.R. Tirmidzi dan Nasa’i). Proses-proses manajemen pada dasarnya adalah perencanaan segala sesuatu secara mantap untuk melahirkan keyakinan yang berdampak pada melakukan sesuatu sesuai dengan aturan serta memiliki manfaat. Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Abi Hurairah Rasulullah saw bersabda : Artinya : “Di antara baiknya, indahnya keIslaman seseorang adalah yang selalu meninggalkan perbuatan yang tidak ada manfaatnya.” (H.R. Tirmidzi) Perbuatan yang tidak ada manfaatnya adalah sama dengan perbuatan yang tidak pernah direncanakan. Jika perbuatan itu tidak pernah direncanakan, maka tidak termasuk dalam kategori manajemen yang baik. Sementara Nabi Muhammad sebagai model pemimpin sejati sebagaimana ditegaskan dalam Al qur’an surat Al Ahzab ayat 21 “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. Melalui ayat ini Allah ingin menegaskan bahwa Muhammad adalah sosok model sejati bagi manusia dalam menjalankan tugas-tugasnya di muka bumi, tidak terkecuali bagi seseorang yang menjadi pemimpin pendidikan. Bagaimana Nabi Muhammad menyampaikan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan kepada sahabat dan ummatnya, bagaimana Nabi Muhammad membentuk karakter para sahabatnya dan ummat percontohan di kala memimpin Negara Madinah kala itu, semuanya mengandung pesan-pesan pedagogik bagi guru profesional abad sekarang. Lihatlah sosok sahabat yang merupakan murid langsung dari Nabi Muhammad, semuanya menampilkan sosok pribadi mulia, akhlak mulia menjadi karakter yang melekat, mental kepemimpinan juga menjadi bagian integral dari karakternya, sehingga sangatlah layak bagi guru abad sekarang untuk menjadikan gaya mendidik dan mengajar Nabi Muhammad sebagai rujukan utama. Core values yang menjadi intisari dari gaya mendidik Nabi Muhammad yang perlu dicontoh oleh guru profesional terangkum dalam formula SIFAT (siddiq, istiqomah, fhatonah, amanah, dan tabligh)   BAB III PEMBAHASAN (uraiakan pembahasan sesuai urutan tujuan pembahasan) A. Hakikat Agama Dalam Memberikan Landasan Pola Kepemimpinan Pendidikan Pemimpin adalah orang yang menjalani kepemimpinan. Selama ini banyak sekali kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan. Pada umumnya orang melihat pemimpin adalah sebuah kedudukan atau posisi semata. Akibatnya banyak orang yang mengejar untuk menjadi seorang pemimpin dengan menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuan tersebut. Mulai dari membeli kedudukan dengan uang, menjilat atasan, menyikut pesaing / teman. Ataupun cara lain demi mengejar posisi pemimpin. Akibatnya, hal tersebut melahirkan pemimpin yang tidak dicintai, tidak disenangi, tidak ditaati dan bahkan dibenci. Dalam Al-Qur’an banyak dijumpai istilah-istilah kepemimpinan antara lain : Amir, Khalifah, Imamah dsb. Hal ini berarti Islam telah lebih dahulu mengetahui dan menetapkan mengani asas-asas kepemimpinan jauh sebelum para ahli Barat membahasnya. Namun, berbagai teori yang digambarkan para ahli mengenai kepemimpinan tak jarang membuat orang tidak memahami akan arti sebenarnya tentang kepemimpinan dalam Islam. Sehingga pemimpin masa kini, tak jarang telah lari dari arti kepemimpinan dlaam Islam. Gaya kepemimpinan yang melanggar garis ketetapan Allah tersebut, hanyalah menumbuhkan anarkisme dan keganasan hawaniah sebagaimana disebutkan oleh Thomas Hobbes ”Homo Homini Lupus, Bulkum Omhium Contra Omnus” ”Manusia Akan Menjadi Pemangsa Manusia Yang Lainnya”. Semua orang ingin jadi pemimpin ! Ribuan orang mengharapkan dirinya menjadi seorang pemimpin. Mereka tidak pernah merasa bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang pemimpin. Hampir setiap orang menjadi pemimpin di lingkungannya masing-masing. Terlepas dari besar kecilnya jumlah orang dalam kelompok tersebut. Bahkan seorang manusia pun harus memimpin dirinya sendiri untuk mengarahkan hidupnya. Seringkali orang memahami kepemimpinan dalam arti sempit sekali. Sehingga mereka mengetahui kepemimpinan adalah para pemimpin negara, wilayah, perusahaan dsb. Ketidak sadaran inilah yang mengakibatkan orang tidak mau mengembangkan ilmu kepemimpinannya. Ditambah dengan jargon-jargon seperti : ”Saya ini rakyat kecil”, padahal ia adalah seorang tukang becak hebat yang memimpin keluarganya di rumah. Yang bisa menciptakan anak-anaknya untuk menjadi pemimpin yang besar. Sebagai seorang khalifah (pemimpin) dimuka bumi, sebagaimana Firman Allah ”Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat ’Aku hendak jadikan Khalifah di muka bumi’”. (QS. Al-Baqarah Ayat 30) Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menggambarkan bahwasanya manusia telah diciptakan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi (dalam arti sempit dipahami sebagai pemimpin diri sendiri). Namun, permasalahan yang terjadi, sudahkah semua pemimpin di dunia ini mencerminkan konsep kepemimpinan sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam tingkah laku dan keteladanan hidupnya. Kepemimpinan Adalah Sunatullah. Kepemimpinan dalam Islam adalah merupakan Sunnatullah / ketetapan dari Allah SWT. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS. Al-Baqarah 30. Kemudian dalil dari Al-Hadits : “Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya (rakyat). Seorang perempuan/ibu adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya; ia bertanggung atas kepemimpinannya. Seorang pelayan/hamba sahaya adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan masing-masing mempertanggungjawabkan atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar) Melalui dua dalil ini dapat kita pahami bahwasanya kepemimpinan adalah suatu ketetapan dari Allah SWT yang keberadaannya tidak mungkin ditawar lagi. Adanya kepemimpinan dalam Islam di dunia ini merupakan suatu jeharusan yang mutlak. Dasar Kepemimpinan dalam Islam Allah menciptakan manusia sebagai master piece dan sesempurnanya ciptaan (ahsani taqwim), bahkan malaikat tidak memiliki potensi Allah pada manusia. Hal ini tersirat dari kisah Kosmos Teologis tentang bagaimana Allah menciptakan Adam sebagai pemimpin di muka bumi (QS. Al-Baqarah 30-33). Manusia bisa dikatakan makhluk intelektual karena dilengkapi dengan otak, kemudian juga bisa dikatakan makhluk berkarakter karena memiliki akhlak. Manusia terlahir sebagai KHALIFAH FIL ARDH, tugasnya adalah menggali potensi kepemimpinan untuk memberikan pelayanan serta pengabdian yang diniatkan semata-mata karena amanah Allah. Sabda Rasulullah SAW ”Setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan dimintakan pertanggungjawabannya berkaitan dengan kepemimpinannya”. Rasulullah SAW bersabda : ”Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka” (HR. Abu Na'im). Pemimpin adalah pelayan ummat, orang yang bertugas dan diamanahkan untuk melaksanakan tugas-tugas dalam memimpin, membimbing dan mengajak umat kearah yang lebih baik dalam artian sama-sama membangun. Pemimpin juga diartikan sebagai perisai bagi rakyat, yang akan melindungi rakyat, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW : Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya”. Dalil lain juga menyatakan akan kewajiban adanya kepemimpinan dalam Islam, seperti : "Jika keluar tiga orang dalam satu perjalanan, maka hendaklah salah seorang dari mereka menjadi pemimpinnya." (HR. Abu Dawud dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah). Konsep Kepemimpinan Dalam Islam Konsep kepemimpinan adalah konsep yang dimiliki oleh Islam dalam memandang kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Islam mencakup beberapa aspek : 1. Aspek Pengaruh Dalam Islam, pemimpin yang tidak berpengaruh akan menyebabkan hilangnya kepercayaan ummat pada pemimpin tersebut. Bisa dicontohkan seperti Shahabat Rasulullah, Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibn Khattab, dll. Mereka memilik pengaruh sangat besar dalam mewujudkan konsep kepemimpinan ditengah ummat Islam. 2. Aspek Kerohanian Pemimpin dalam Islam, selain sebagai pemimpin ummat, ia juga bertindak sebagai pemimpin agama. Hal ini ditunjukkan langsung oleh pribadi Nabi Muhammad SAW, yang selain sebagai pemimpin masyarakat juga sebagai pemimpin agama. Kalau kita contohkan dalam kehidupan sekarang adalah Paus Benediktus XII, sebagai pemimpin Ummat Katolik. Aspek Karakteristik Aspek karakteristik merupakan salah satu aspek yang digunakan untuk menilai konsep kepemimpinan seseorang. Aspek ini meliputi karakter pemimpin, baik baik maupun buruk. Tipe-Tipe Kepemimpinan Secara umum, ada beberapa tipe kepemimpinan / Basic Leadership Style: 1. Pemimpin adalah Direktur / DIRECTING. Dalam tipe kepemimpinan ini, leader memberikan arahan-arahan dan mengawasi penyelesaian seluruh aktivitas secara dekat. Kepemimpinan directing adalah tipe kepemimpinan berkompetensi rendah namun berkomitmen tinggi. Konsep kepemimpinannya adalah menggunakan pola instruksi dengan sedikit support. Kepemimpinan seperti ini sering dipandang sebagai kepemimpinan semi diktator, namun tingkat keberhasilan pengaruh pemimpin sangat kuat. 2. Pemimpin adalah Pelatih / COACHING Pada tipe ini, leader disamping memberikan arahan dan mengawasi penyelesaian aktivitas, juga memberikan penjelasan cara mengambil sikap, memberikan usulan yg tepat dan mensupport setiap progress. Kepemimpinan ini memiliki tingkat kompetensi sedang, namun rendah komitmen. Banyak support pada bawahan, namun sedikit instruksi, dan menggunakan pola pendampingan. Pada tipe ini, pemimpin seringkali mudah untuk ”diambil hatinya”. 3. Pemimpin adalah Pendukung / SUPPORTING Pada tipe Supporting, leader memfasilitasi dan mensupport upaya anggotanya dalam menyelesaikan tugas serta melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Tipe ini berkompetensi tinggi namun memiliki komitment sedang. Banyak support sedikit instruksi dan pola pengembangannya adalah dukungan. 4. Pemimpin adalah Delegasi / DELEGATING Pada tipe delegasi, leader melakukan rotasi / pendelegasian tanggungjawab dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah. Memiliki kompetensi tinggi dan komitmen tinggi, sedikit support dan sedikit instruksi, dan pola pengembangannya adalah delegasi. Dalam menjalankan kepemimpinan, seorang leader yang baik hendaknya memiliki empat keahlian khusus, yaitu : Interpreting, mampu menginterpretasikan atau memvisualisasikan suatu kondisi internal maupun external yang akan berdampak pada tim. Shaping, mampu memberikan gambaran tentang visi dan strategi untuk memberikan arti kerja tim. Mobilising, mampu memobilisasi para individu dalam tim dengan ide, kemampuan dan nilai masing-masing anggota yg berbeda untuk membangun sebuah tim. Inspiring, mampu memberikan inspirasi kepada orang dalam mencapai hasil. Kepemimpinan yang Didambakan Kepemimpinan yang didambakan dalam Islam adalah sosok pemimpin yang memiliki kejiwaan dan pola sesuai dengan tuntunan Nabi SAW (khalifatu ‘ala minhaji nubuwwah) / pemimpin sesuai dengan metode kenabian. Dan pemimpin itu haruslah sesuai dengan tuntutan dari Ummat sekarang yang amat merindukan sosok pemimpin. Sebenarnya seperti apakah sosok pemimpin dambaan ummat? Pemimpin dambaan ummat adalah sosok pemimpin yang bisa membawa ummat kembali merintis dan menciptakan peradaban mulia sebagaimana telah digambarkan Nabi SAW. Karena hanya kepemimpinan yang sesuai dengan metode kenabianlah, Ridha Allah akan didapat. Kepemimpinan yang dapat membawa ummat kedalam Ridha Allah adalah : 1. Pemimpin yang menerapkan hukum Syari’ah (ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. QS. Annur 1. Al-Qur’an dan hadist telah diturunkan oleh Allah SWT ke muka bumi sebagai way of life / jalan hidup / dasar hukum bagi segala perkara ummat manusia. Yang berwenang membuat hukum hanyalah Allah SWT. Pemimpin yang diRidhai Allah SWT adalah pemimpin yang memnggunakan dasar hukum dari nash Al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW bukan hukum buatan manusia. 2. Pemimpin sebagai pembela Ummat Pemimpin juga diartikan sebagai perisai bagi rakyat, yang akan melindungi rakyat, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW : Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya”. Pemimpin yang mendapatkan Ridha Allah SWT adalah pemimpin yang mampu melindungi dan menjaga kehormatan Ummatnya dari pihak luar. 3. Pemimpin yang mampu membawa Peradaban Mulia kembali ke muka bumi Islam merupakan sebuah sistem pemerintahan, sistem hukum, sistem politik, sistem sosial, sistem kemasyarakatan, sistem pendidikan, sistem keagamaan, sistem ekonomi, sistem pertahanan keamanan, dsb. Maka untuk menciptakan kembali peradaban mulia Islam dimuka bumi diperlukan sebuah sistem pengaturan Islam / A Global Imperium of System, dalam rangka mewujudkan Novus Ordo Scrotum (Tatanan Dunia Baru) seperti yang dihembuskan oleh kaum Yahudi. Sistem Islam telah terbukti menciptakan peradaban selama 14 abad tanpa terkalahkan, termasuk peradaban Romawi, Bizantium, dan peradaban Imperialisme sekarang ini. 4. Pemimpin yang sesuai dengan metode kenabian Pemimpin dambaan ummat tentu saja adalah al-khalifah ‘ala minjahi nubuwwah / pemimpin berdasarkan atas metode kenabian. Ini tidak bisa ditawar lagi. Kepemimpinan dalam Islam merupakan Sunnatullah / ketetapan Allah SWT, yang telah menjadikan manusia sebagai pemimpin. Kepemimpinan telah terlebih dahulu diperkenalkan dalam Islam jauh sebelum para ahli mengemukakannya. Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang didasarkan atas metode kenabian dalam rangka menciptakan kultur masyarakat madani memperoleh Ridha Illahi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Rusman Faoz

Rusman Faoz